Foto tangkapan layar YouTube Setpres

 

Kanalnews.co, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan langkah serius pemerintah untuk mengakhiri ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Upaya tersebut dilakukan melalui percepatan pengembangan kilang dalam negeri, salah satunya lewat proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina.

Bahlil mengungkapkan, komitmen tersebut telah disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto setelah dirinya menggelar rapat maraton bersama jajaran pimpinan PT Pertamina (Persero) hingga dini hari. Dalam pertemuan itu, pemerintah dan Pertamina menyepakati peningkatan kapasitas serta kualitas produksi BBM nasional.

“Rapat dengan Pertamina berlangsung sampai sekitar pukul dua pagi. Kami melaporkan langsung kepada Bapak Presiden bahwa melalui RDMP, produksi BBM dengan RON 92, 95, hingga 98 akan ditingkatkan agar tidak lagi bergantung pada impor,” kata Bahlil saat peresmian operasional megaproyek RDMP Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).

Menurut Bahlil, peningkatan kapasitas kilang ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan SPBU milik Pertamina, tetapi juga akan mampu memasok BBM bagi SPBU swasta dari produksi dalam negeri. Langkah tersebut dinilai sebagai wujud nyata pelaksanaan amanat konstitusi.

Ia menegaskan, penguatan sektor energi nasional selaras dengan Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan penguasaan negara atas cabang produksi strategis yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. “Ini bukan sekadar kebijakan, tapi perintah konstitusi. Negara harus hadir dan menyiapkan infrastrukturnya,” ujarnya.

Beroperasinya kilang terbesar di Indonesia ini juga membawa dampak ekonomi signifikan. Pemerintah memperkirakan penghematan devisa dapat mencapai lebih dari Rp60 triliun per tahun seiring berkurangnya impor BBM.

Kilang Balikpapan kini didukung fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mampu meningkatkan kapasitas pengolahan hingga 360 ribu barel minyak per hari, dari sebelumnya sekitar 260 ribu barel. Selain peningkatan volume, kualitas BBM yang dihasilkan juga telah memenuhi standar Euro 5 dan mendukung agenda transisi energi menuju target net zero emission.

Dengan tambahan produksi bensin sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, impor bensin nasional diproyeksikan turun signifikan. Sementara itu, untuk sektor solar, Bahlil menegaskan Indonesia mulai memasuki fase tanpa impor.

“Mulai sekarang, atas arahan Bapak Presiden, impor solar tidak lagi dilakukan. Ini tonggak penting menuju kemandirian energi nasional,” pungkasnya. (sis)