Oleh: Moh. Toha
BAMBANG Pamungkas dan Elie Aiboy menjadi pusat perhatian pada sesi latihan Timnas Indonesia yang digelar Selasa (30/10) pagi dan sore hari di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan. Kehadiran mereka dalam skuad Merah Putih yang minim pemain akibat konflik pengelolaan sepakbola nasional, seperti ingin menuliskan sejarah mereka sebagai pemain yang tak bisa ‘dibayar’ oleh siapa pun.
Kelak keduanya, Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy akan dikenang sebagai pemain sepakbola Timnas Indonesia tanpa embel-embel. Bagaimana dengan para pemain yang ‘melarikan diri’ dari pelatnas Timnas Indonesia dengan alasan tidak diberi izin oleh klub masing-masing?
Mereka; para pemain yang ‘melarikan diri’ itu tentu tidak bisa disamakan dengan Bambang Pamungkas maupun Elie Aiboy. Jika Bepe, sapaan Bambang Pamungkas dan Elie menulis sejarah mereka sendiri sebagai pemain sepakbola nasional, tidak demikian bagi pemain yang tak mau memperkuat Merah Putih karena dilarang klub masing-masing.
Mereka tentu tidak menulis sejarahnya seperti Bepe dan Elie, tetapi sejarah mereka dituliskan oleh pengelola klub masing-masing melalui kebijakan yang tidak berpihak kepada muara kompetisi, yakni tim nasional. Kelak, anak-anak bangsa ini akan mengingat nama-nama pemain yang tak mau membela Timnas Indonesia itu sebagai pembangkang.
Padahal, seperti diungkapkan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, saat melihat latihan Timnas Indonesia di SUGBK Senayan, kemarin, Bepe tidak membela Djohar atau siapa pun tetapi membela Merah Putih. “Ini soal bangsa, mereka membela negara, Merah Putih, dan bukan membela Djohar Arifin,” kata mantan Sekjen KONI Pusat itu.
Seharusnya pemain mendahulukan kepentingan nasional, bukan kepentingan klub. “Karena itu, ketika negara melalui Manajemen Timnas Indonesia memanggil memanggil pemain untuk Merah Putih, tidak ada alasan untuk menolaknya,” kata Anjas Asmara, pemain Timnas Indonesia era 1970-an itu.
Anjas lalu mengutip John F. Kennedy. Mantan Presiden Amerika Serikat itu pernah menyatakan, “Jangan tanyakan apa yang Negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada Negaramu.” Demikian juga dengan para pemain nasional, ketika Negara membutuhkan tenaga mereka, harus siap seperti keputusan Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, Andik Vermansya maupun pemain lainnya yang bergabung dalam Merah Putih.
Untuk itu, pemain yang ‘hilang’ dari pelatnas seperti pemain asal klub Semen Padang, yakni Wahyu Wijiastanto, Hendra Bayaow, Hengki Ardiles, Hendry Mofu, Novan Setya atau M. Nur Iskandar, harus melihat cara berpikir Bepe atau Elie Aiboy. “Saya berharap Bepe dan Elie bisa mengispirasi pemain lain untuk kembali bergabung dengan Merah Putih,” kata Anjas Asmara yang mengaku miris melihat sesi latihan hanya diperkuat 17 pemain dari 35 nama yang didaftarkan ke panitia AFF 2012.*




































