KANALNEWS.co, Jakarta – PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) sebagai pengelola kompetisi Indonesian Premier League (IPL) Senin (12/3) memenuhi undangan tim rekonsiliasi bentukan KONI Pusat untuk membahas penyelesaian konflik dualisme kompetisi antara IPL yang dibawah naungan PSSI dan Indonesian Super League (ISL).
Salah satu solusi yang disampaikan PT LPIS kepada KONI adalah meleburkan dua kompetisi tersebut menjadi satu pada akhir musim nanti. Perwakilan LPIS yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah CEO PT LPIS Widjajanto, Direktur Kompetisi LPIS Hendriyana, Llano Mahardika.“Mereka (PT LPIS) menawarkan penggabungan kompetisi pada akhir musim nanti. Mereka juga berharap supaya meninggalkan ego sektoral dengan menanggalkan masing-masing atribut dan memunculkan atribut baru atau nama baru (kompetisi),” kata Sekretaris Tim Rekonsiliasi, Sudirman kepada wartawan di Gedung KONI usai pertemuan Senin petang.
Dijelaskan Sudirman, PT LPIS sendiri sepakat agar kompetisi yang sudah berjalan ini dibiarkan untuk terus berjalan sampai akhir musim. Nantinya, juara di masing-masing kompetisi akan diadu. Setelah itu duduk bersama mencari format yang baik untuk masa depan pembinaan sepak bola Indonesia.
“Dan nantinya kompetisi hasil gabungan ini biar dikelola oleh orang-orang terbaik dan profesional sehingga bisa dijamin akuntabilitas dan kebersihan daripada pelaksanaan itu. Dan semuanya harus sesuai dengan regulasi yang ada,” ujar Sudirman.
Sementara itu CEO PT LPIS, Widjajanto, dalam jumpa persnya di kantor PSSI, Jakarta, Senin malam menjelakan bahwa pihaknya telah memberikan lima poin masukan kepada tim rekonsiliasi. “Sebenarnya kami hanya menawarkan hal yang sesuai dengan standar atau statuta FIFA,” ujar pria yang akrab disapa Widja ini.
Pertama menurutnya, harus tetap mengacu pada Club Licensing Regulation, dimana Indonesia diberi waktu tambahan dari AFC. “Karena itu, semua klub yang akan ikut (di liga tertinggi) harus memenuhi Club Licensing Regulation,” lanjutnya.
Kedua, seperti yang sudah diungkapkan Sudirman, PSSI berharap supaya kedua belah pihak meninggalkan ego sektoral dengan menanggalkan masing-masing atribut dan memunculkan atribut baru atau nama baru. “Jadi nanti tidak lagi pakai nama kompetisi IPL atau ISL. Melainkan memakai nama kompetisi baru,” ujarnya
Lalu yang ketiga menurut Widja, pihaknya juga menyarankan agar liga profesional nantinya dikelola dan dilaksanakan oleh orang-orang terbaik dan profesional sehingga bisa dijamin akuntabilitas dan kebersihan daripada pelaksaan itu.
“Tidak harus orang-orang yang ada di depan Anda (pengurus PSSI), maupun dari sebelah (PT Liga Indonesia). Ya mungkin saja bisa dari orang-orang dari pengelola kompetisi di luar negeri. Misalnya seperti itu,” paparnya.
Kemudian yang keempat kompetisi yang sedang berjalan ini terus berjalan sampai selesai, “Lalu setelah itu hasilnya diadu. Dan setelah itu mari kita duduk bersama untuk mencari format yang baik untuk masa depan pembinaan sepakbola indonesia,” ujarnya.
Lalu solusi yang terakhir semua pihak yang mengelola nantinya harus secara transparan menyampaikan kepada publik dan melihat siapa sponsorship terbesar yang mau menangani liga (baru) ini. “Harus menghormati nilai komersial yang paling baik untuk dipilih. Itu nantinya yang sama-sama dipilih,” katanya. Ranoe Nirawan





































