Kanalnews.co, JAKARTA– Menpora Zainudin Amali mengaku sangat kecewa dengan sikap BWF (Federasi Bulutangkis Internasional) atas mundurnya Indonesia di ajang All England. Menpora Amali minta BWF tak buang badan.

Indonesia dipaksa angkat koper dari All England, lantaran diketahui satu penerbangan dengan orang yang terjangkit Covid-19. Padahal, sebelumnya Indonesia sudah melakukan pemeriksaan kesehatan lebih dulu.

“Tentu perasaan kita sebagai bangsa merasa sakit. Kenapa? kita diperlakukan tidak baik. Bayangkan, tim sudah bertanding kemudian diberhentikan, dan bahkan setelah dikeluarkan dari arena disuruh jalan kaki yang biasanya disiapkan shuttle bus. Ini penyampaian langsung dari teman-teman kita disana,” ujar Menpora Amali, Jumat (19/4/2021).

Menpora Amali menilai, kejadian tersebut adalah bentuk tindakan yang diskriminatif. Menpora Amali meminta BWF tidak buang badan karena dianggap tak profesional dan transparan.

“Karena cukup bukti untuk saya mengatakan itu. Oleh karena itu, kami sangat kecewa atas perlakuan ini. BWF tidak boleh buang badan berlindung pada aturan yang ada di negara Inggris,” jelas Menpora Amali.

Sementara itu Ketua KOI Raja Sapta Oktohari menegaskan akan membawa kasus ini ke ranah hukum. Dia ingin masalah tersebut bisa diselesaikan.

“Kami akan ajukan ke arbitrase internasional, karena Indonesia ini aset besar bulutangkis dunia. Apakah begini BWF memperlakukan salah satu aset terbesarnya?” kata Okto.

Selain itu, KOI sangat mengapresiasi serta mendukung sikap pemerintah dalam hal ini Kemenpora dan Kemenlu terkait tragedi ini.

“KOI mengapresasi Kemenpora dan Kemenlu karena sejak awal sigap merespons apa yang terjadi dengan pemain bulutangkis Indonesia yang kini dikarantina di Inggris,” katanya menambahkan.

Pria yang akrab disapa Okto itu juga mengatakan jika badan bulutangkis dunia itu tidak buang badan ke pemerintah Inggris. Okto pun mengklaim jika sudah melayangkan surat kepada BWF dan NOC Inggris.

“Kami KOI, sama dengan pemerintah, memberi pernyataan tegas kepada BWF agar tidak buang badan ke pemerintah Inggris,” katanya.

“Karena yang menggelar All England itu bukan pemerintah Inggris. BWF seharusnya bertanggung jawab penuh atas keteledoran di All England,” tuturnya. (bnd)