KANALNEWS.co, Semarang – Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah mencabut izin keramaian yang telah diberikan dan akibatnya laga cabang olahraga sepak bola babak kualifikasi PON XIX Zona Jawa yang berlangsung di Stadion Jatidiri Semarang dibatalkan.
Sesuai dengan jadwal, pada pertandingan hari pertama Selasa (6/10/2015) laga akan mempertandingankan tuan rumah Jawa Tengah melawan DI Yogyakarta namun harus dibatalkan meskipun kedua tim saat itu sudah berada di lapangan di Stadion Jatidiri untuk melakukan pemanasan.
Tak hanya tim yang telah melakkukan pemanasana, bahkan, perangkat pertandingan juga sudah berada di lapangan termasuk penonton kedua tim juga sudah berada di Stadion Jatidiri,
Pada kualifikasi PON XIX/2016 di Bandung Jawa Barat, tim-tim yang bertanding di Zona Jawa dan telah berada di Semarang untuk persiapan menjalani pertandingan adalah Banten dan DKI Jakarta. Sementara tim Jawa Timur belum hadir karena menurut jadwal mereka baru memainkan pertandingan pada Kamis (8/10) mendatang.
Ketua Asosiasi Provinsi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (Asprov PSSI) Jawa Tengah Johar Lin Eng mengatakan begitu PSSI menunjuk Jawa Tengah sebagai tuan rumah penyelenggara babak kualifikasi PON XIX tersebut pada Kamis (1/10) pihaknya langsung bergerak cepat untuk mengurus segala sesuatunya dan pada Jumat (2/10) malam langsung mengurus ke perizinan kepada aparat kepolisian mulai dari polsek, polres, dan akhirnya mendapat rekomendasi dari Polda Jawa Tengah.
“Tetapi ternyata Selasa siang ini, rekomendasi dari Polda Jateng ditarik kembali dan dinyatakan bahwa seluruh pertandingan tidak diizinkan,” katanya di Semarang.
Ia menyatakan, setelah tidak diizinkan untuk menggelar pertandingan, pihaknya meminta agar kedua tim yang telah berada di lapangan diberikan izin untuk melakukan pertandingan uji coba atau persahabatan hal ini disebabkan semua alat pertandingan sudah siap termasuk penontonnya sudah ada. “Tetap tidak diizinkan juga,” keluhnya.
Peristiwa ini meurutnya merupakan pukulan telak dan menyesakkan karena petandingan-pertandingan ini tujuannya adalah untuk menyukseskan pesta olahraga multievent empat tahunan di Jawa Barat pada 2016 mendatang dan pembinaan pemain amatir seharusnya mendapat dukungan dari pemerintah sesuai dengan Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional, tetapi di menit-menit akhir justru bertentangan dengan undang-undang tersebut. “Ini tentunya mematikan pembinaan sepak bola,” katanya.
Ia menegaskan, tim-tim peserta babak kualifikasi sepak bola Zona Jawa ini sudah melakukan persiapan cukup lama seperti halnya Jatim yang telah mempersiapkan diri selama tiga tahun, kemudian Jateng yang juga menjadi tuan rumah telah menyiapkan diri sekitar dua tahun, sementara DKI Jakarta, Banten, dan DI Yogyakarta juga sudah melakukan persiapan dengan matang.
“Sebagai tuan rumah kami minta maaf kepada tim-tim peserta dan berharap kejadian ini yang terakhir dan tidak terulang di daerah-daerah lain. Kami berharap ada solusi yang baik,” tukasnya.
Wakil tim dari Banten Suyono mengatakan, kejadian ini di luar dugaan karena timnya sudah melakukan persiapan yang matang. “Kami minta diberikan solusi yang baik, jangan diombang-ambingkan,” katanya.
Sementara wakil tim dari DI Yogyakarta Ediyanto mengatakan, tentunya kejadian ini sangat mengecewakan dan dirinya merasa shock. “Tentunya kami-kami ini harus membuat petisi atau minta surat pertanggungan kepada KONI Pusat,” katanya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh perwakilan dari Tim Jawa Timur Itong Nurcahyo mengatakan, timnya sama dengan apa yang dikemukakan oleh Banten dan DI Yogyakarta. “Kita serahkan kepada KONI Pusat dan PSSI,” katanya.
Sedangkan dari DKI Jakarta melalui Sofyan Nur mengatakan timnya sebenarnya sudah melakukan persiapan untuk bisa berpartisipasi pada PON mendatang.
Dari Jateng melalui Eko Wahyudi mengatakan, kejadian ini dirinya shock dan juga malu kepada tim-tim yang sudah hadir di sini. “Kami ingin menjadi tuan rumah dengan harapan sukses penyelenggaraan dan prestasi akhirnya sirna,” katanya.
“Sebagai tuan rumah tentunya akan kami kembalikan kepada mereka yang menunjuk kami,” kata Johar Lin Eng. (Herwan)




































