KANALNEWS.co, Bandung – Grup Bakrie melalui mantan Wakil Ketua Umum PSSI, Nirwan Dermawan Bakrie selama ini memang dikenal sebagai orang penggila bola di Tanah Air. Beberapa klub profesional di Indonesia pun seperti Pelita Jaya Karawang yang telah dimilikinya sejak tahun 80-an. Klub lokal lain seperti Deltras Sidoarjo, Persela Lamongan dan Arema Indonesia pun juga dimilikinya.
Tak hanya klub lokal, demi hobi dan mengangkat popularitasnya sebagai salah satu orang kaya di Indonesia, Grup Bakrie ini pun juga tak sayang untuk merogoh kocek hingga puluhan bahkan hingga ratusan miliar untuk membeli klub-klub yang berada di luar negeri yang dinilianya memiliki prospek bisnis bagus. Klub Brisbane Roar yang bermain di Liga profesional Australia dan CS Visse yang bermain di Divisi II Belgia (setara Divisi Utama di Indonesia) juga merupakan klub miliknya.
Namun Deputi Sekjen PSSI bidang Kompetisi, Saleh Ismail Mukadar berpendapat bahwa langkah Nirwan yang melakukan pembelian klub-klub yang menghabiskan dana yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah tersebut, sangatlah tidak etis dan tidak bermoral. Karena pada saat yang sama perusahaan milik sang kakak Aburizal Bakrie yang dikelolanya ini tengah dituntut pertanggungjawabannya, untuk menanggulangi para korban semburan lumpur Lapindo di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Bahkan bencana yang terjadi sejak 9 September 2006 dan belum teratasi hingga kini.
“Saya rasa ditengah situasi bencana Lapindo yang belum juga selesai sangat tidak etis lah. Kalau untuk membeli klub di luar negeri yang menghabiskan dana miliaran rupiah, duitnya ada, tapi kalau untuk mengganti kerugian para korban yang telah kehilangan rumah dan mata pencaharian katanya mengaku tak punya uang. Itu namanya tidak jujur,” kata Saleh ketika berbincang dengan wartawan usai berziarah ke makam pendiri PSSI Soeratin di Bandung, Rabu (18/4) siang kemarin.
Saleh juga heran dengan apa yang dilakukan Nirwan karena tiap bulan mereka juga harus mendanai beberapa klub lokal. Belum lagi mendanai kompetisi Indonesian Super League (ISL) yang diikuti 18 klub yang sebelumnya tidak diakui PSSI. “Kita semua kan sudah tahu. Kalau untuk urusan bola bisa tapi untuk membantu masyarakat yang terkena lumpur lapindo tidak ada uang cash. Ini kan aneh,” ucapnya.
Terkait permohonan pinjaman dana ganti rugi korban lumpur Lapindo yang diajukan oleh PT Lapindo Brantas Inc (salah satu anak perusahaan Bakrie Group) ke pemerintah baru-baru ini, pria yang dikenal paling vokal dan frontal dalam mengkritisi kepemimpinan Ketua Umum PSSI yang lama, Nurdin Halid ini meminta agar pemerintah jangan mau didikte oleh perusahaan tersebut.
“Boleh-boleh saja pemerintah membantu dan memberikan pinjaman dana. Akan tetapi, pemerintah jangan mau didikte. Sebagai pecinta sepak bola, kami juga senang ada orang yang sangat peduli dengan sepak bola. Tapi dengan adanya bencana Lapindo ini ya saya kira dia (Nirwan) harus mengutamakan kepentingan korban Lapindo dulu. Bukan lalu uangnya dihambur-hamburkan untuk membiayai klub ISL seperti sekarang ini,” ujar Saleh. Ranoe Nirawan




































