KANALNEWS.co, Surabaya – Wali Kota Surabaya  Jawa Timur Tri Rismaharini mengaku pernah menolak jabatan menteri dalam kabinet Kerja yang ditawarkan Presiden Joko Widodo. Wanita berjilbab itu pun menceritakan proses penolakannya saat itu.

“Saat itu, saya dipanggil langsung oleh Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri ketika Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla hendak membentuk Kabinet Kerja. Langsung saya menolak tawaran tersebut,” cerita Risma.

Mendengar penolakan Risma, Megawati langsung bereaksi dan mempertanyakan sikapnya “Lho, gimana sih, Mbak..?” kata Risma menirukan reaksi Megawati. Dan Wali Kota Surabaya yang menjabat untuk periode keduanya itu pun memberikan alasan penolakannya. “Iya, Bu (Megawati), warga saya masih banyak yang belum sejahtera,” kata Risma kepada Megawati.

Namun, Risma tidak menjelaskan detail tawaran dari Jokowi, termasuk waktu dan posisi yang ditawarkan. Padahal, Risma mengenang, waktu itu PDI Perjuangan sudah memperhitungkan calon menteri-menteri yang akan disetor kepada Presiden Jokowi. Hanya Risma yang menolak posisi untuk Menteri dan kondisi ini seakan mengisyaratkan walau petugas partai atau kader partai, dia masih bisa menolak bila disampaikan kepada Megawati.

“Ya, mestinya (kalau mau) kan aku sudah jadi menteri, rek,” kenang Risma

Risma yang digadang-gadang akan meramaikan bursa calon Gubernur DKI Jakarta itu mengungkapkan hal itu usai meninjau lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (11/8) dan berkaca dari peristiwa tersebut Risma yakin Megawati mampu bersikap bijaksana seandainya nanti Risma pun menolak permintaan Megawati untuk maju dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017.

Wanita yang identik dengan sapu lidi itu adalah satu-satunya kandidat yang paling mumpuni untuk menandingi elektabilitas calon inkumben Basuki Tjahja Purnama yang saat ini menjadi Gubernur DKI Jakarta. Bahkan PDI Perjuangan juga sedang menimbang Risma jika dicalonkan melawan Ahok. Meski begitu, hingga saat ini PDI Perjuangan belum memutuskan calon peserta pilkada DKI Jakarta. Adapun Ahok hingga kini sudah didukung tiga partai, yakni Golkar, NasDem, dan Hanura. (Setiawan)