KANALNEWS.co, Jakarta – Presiden Joko Widodo tetap berkomitmen untuk menambah kapasitas listrik 35 ribu mega watt (MW) dalam lima tahun untuk dipercepat dan tidak akan ada revisi dalam proyek mega proyek itu selama kepemimpinannya.

”Beliau (Presiden Jokowi) monitor setiap bulan soal perkembangan,” kata Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir seusai menemui Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/9/2015).

Presiden menurut mantan Direktur Utama BRI itu tetap meminta proyek 35 ribu MW dipercepat dengan tidak ada yang mengubah target pembangunan pembangkit listrik, hal ini juga untuk membantah pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli yang diberitakan media tidak sesuai dengan realitasnya.

“Terakhir beliau tutup jangan diskusi lagi soal angka,” katanya lebih lanjut.

Menurut Sofyan, seluruh proyek pembangunan pembangkit listrik 35 ribu MW akan dibeli PLN dan pernyataan Rizal bahwa proyek 35 ribu MW akan merugikan negara tidak sepenuhnya benar, namun proyek tersebut juga bisa menguntungkan negara. Dia mengandaikan apabila industri maju pesat dan masif serta biaya industri diturunkan, investor akan berlomba-lomba meluaskan pabrik.

“Dengan begitu, lapangan kerja akan bertambah,” kata Sofyan memastikan.

Sebelumnya, Menko Kemaritiman dan Sumber Daya memutuskan akan memangkas target program pembangkit listrik 35 ribu MW menjadi 16 ribu MW untuk lima tahun ke depan.

“Seperti diketahui ada target untuk membangun pembangkit listrik sebesar 35 ribu MW. Setelah kami bahas, 35 ribu MW tidak mungkin dicapai dalam waktu lima tahun, mungkin sepuluh tahun bisa,” kata Rizal.

“Jika target pembangunan listrik tetap dipaksakan hingga 35 ribu MW, maka justru merugikan keuangan PLN dan jika tetap dipaksakan rampung dalam lima tahun, maka pada 2019 PLN akan mengalami kelebihan pasokan listrik yang tidak terpakai sebanyak 21.331 MW pada saat beban puncak sebesar 74 ribu MW,” katanya. (Herwan)