KANALNEWS.co, Jakarta – Sejumlah masalah berpotensi akan menghambat Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto untuk kembali memperebutkan kursi orang nomor satu di partai berlogo beringin itu pada Musyawarah Nasional (Munas) yang akan berlangsung akhir tahun ini.

Peneliti Politik LIPI Aisah Putri Budiarti menyebut salah satu hambatan yang akan menjadi batu sandungan Airlangga adalah salah satunya adalah menurunnya perolehan suara partai dalam Pileg 2019. “Kondisi menurunnya perolehan suara Golkar di DPR RI, secara persentase, dari Pileg 2019 bisa menjadi catatan evaluasi baginya dalam munas nanti,” kata Aisah, Minggu (28/7/209).

Menurut Aisah berkurangnya perolehan suara ini tak bisa dipisahkan dari kepemimpinan Airlangga yang mengemban dua jabatan penting, selain menjadi Ketua Umum Golkar, dia juga mengambil jabatan Menteri Perindustrian pada kabinet Indonesia Kerja jilid satu.

Menurutnya, secara garis besar seharusnya perolehan suara partai saat Pileg 2019 menjadi tanggung jawab Airlangga. Pada Pileg 2014, perolehan persentase Golkar mencapai 14,7 persen, sementara saat ini perolehannya berkurang dua persen lebih. Selain itu, masih adanya kader Golkar yang terjerat kasus korupsi juga menjadi batu ganjalan lain bagi Airlangga.

“Golkar punya pekerjaan rumah yang berat di bawah Airlangga. Menteri Perindustrian sekaligus Ketum Golkar itu harus membersihkan image partai terkait komitmen anti-korupsi. Bersih dari korupsi pascakasus Setya Novanto dan banyak kadernya yang tertangkap korupsi,” katanya.

Aisah juga menakar peluang Ketua DPR Bambang Soesatyo di Musyawarah Nasional Golkar. Menurut dia saat ini Bamsoet punya kans di Munas. Pasalnya, ada pertemuan yang dilakukan dengan Presiden Joko Widodo belum lama ini. Meski sama-sama melakukan pertemuan seperti Airlangga, namun pertemuan antara Jokowi dan Bamsoet dianggap punya sinyal lebih kuat.

“Dari segi simbol politik, pertemuan dengan Bamsoet beberapa waktu lalu bisa menjadi sinyal kecenderungan dukungan Jokowi pada Bamsoet. Namun, tentunya kita tidak bisa memastikan hal tersebut, karena proses menuju munas masih panjang,” kata Aisah lagi.

Dari segi konsolidasi kekuatan, Bamsoet juga dinilai lebih gencar daripada Airlangga. Selain Jokowi, Bamsoet telah menemui tokoh kunci seperti BJ Habibie. Jika konsisten, maka hal ini akan sangat berpengaruh pada kekuatan Bamsoet.

“Gerakan ke tokoh penting di level nasional, dan diikuti konsolidasi kekuatan ke bawah. Maka gerak cepat ini bisa memberikan peluang bagi Bamsoet, apalagi Airlangga kelihatannya lebih “santai”,” ujar Aisah. (ANT)