Oleh: Rizky R.
KANALNEWS.co, Jakarta – Partai Nasdem terus pantau elektabilitas dua tokoh Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK) dan Priyo Budi Santoso.
“Gaya JK yang mirip dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) telah menarik perhatian Partai Nasdem,” kata Ketua Umum Partai Nasdem Patrice Rio Capella di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan survei yang menempatkan JK pada posisi lebih tinggi dari Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal bakrie (Ical) disebabkan JK banyak melakukan terobosan-terobosan. JK dianggap tidak mengikuti pakem pejabat publik yang ada sekarang. “JK seperti Jokowi dalam skala nasional,” kata Patrice.
Begitu juga mencuatnya Priyo Budi Santoso yang menyodok di posisi ketiga dalam elektabiltas tokoh-tokoh Partai Golkar, juga diamati oleh Partai Nasdem.
“Melesatnya nama Priyo karena berani membuat gebrakan yang memberikan harapan kepada publik,” ungkapnya. Patrice mengatakan awalnya banyak orang yang meragukan figur alternatif seperti Jokowi. Namun gebrakan yang dilakukan Jokowi membuatnya memenangi Pilkada DKI Jakarta.
“Tokoh seperti ini yang akan kita cari di Pilpres 2014,” kata dia.
Dalam survei yang dilakukan Political Weather Station (PWS) terhadap tokoh-tokoh di Partai Golkar, elektabilitas (tingkat keterpilihan) JK menempati posisi teratas dengan 22,14 persen. Aburizal menempati urutan kedua dengan 16,35 persen.
Yang cukup mengejutkan adalah mencuatnya Priyo Budi Santoso ke posisi ketiga (12,24 persen). Priyo mengungguli seniornya di Partai Golkar seperti Akbar Tandjung (11,21 persen), Fadel Muhammad (9,81 persen), Agung Laksono (4,48 persen), Hajriyanto Tohari (0,46 persen), Sharif Cicip (0,09 persen).
Adapun responden yang menjawab rahasia (4,39 persen) dan undecided (18,83 persen). Hasil survei Lembaga Survei Nasional (LSN) juga menyebut JK masih mengungguli Ical.
Dalam paparan surveinya, LSN secara berurutan menyebut elektabilitas tertinggi ada di Prabowo Subianto (20,1 persen) dan Wiranto (12 persen).
Adapun tokoh-tokoh lain yang berada di bawah keduanya, yakni Jusuf Kalla (9,4 persen), Megawati Soekarno Putri (8,8 persen), Aburizal Bakrie (7,1 persen), Sri Sultan Hamengkubuwono X (6,3 persen), Mahfud MD (5,8 persen), Joko Widodo (4,7 persen), Surya Paloh (3,3 persen), Dahlan Iskan (2,6 persen), Hidayat Nur Wahid (1,7 persen) dan Hatta Radjasa (1,2 persen).
Tokoh lain adalah Sutiyoso (0,8 persen), Suryadharma Ali (0,6 persen), Kristiani Herawati (0,4 persen), Anas Urbaningrum (0,3 persen). Terakhir tokoh militer yang masih aktif, yakni Pramono Edhie Wibowo (0,1 persen). Wakil Ketua Umum DPP PPP Lukman Hakim Saifuddin menilai capres alternatif di Indonesia sulit muncul antara lain karena terhalang regulasi. “Dalam UU Partai Politik dan dan UU Pemilu Presiden hanya partai politik yang memiliki otoritas untuk mengusung calon presiden,” kata Lukman.
Menurut Lukman, halangan regulasi tersebut adalah hanya partai politik yang memiliki otoritas untuk mengusung calon presiden dan partai politik lebih cenderung mengusung kader internal, padahal jumlahnya terbatas. Halangan lainnya, menurut dia, adalah rambu-rambu persyaratan “presidential threshold” yang pada pembahasan RUU Pemilu Presiden ada partai-partai politik yang mengusulkan “presidential threshold” 15 hingga 20 persen.*









































