Foto Kanalnews.co

 

 

Kanalnews.co, PROBOLINGGO – Di tengah aula Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kraksaan, alunan musik lembut mengiringi langkah kecil lima perempuan, dengan kostum merah menyala serta atributnya.

Dalam rangkaian acara serah terima jabatan (sertijab) Kepala Rutan, mereka menari, bergerak teratur, senada dan seirama, Selasa (7/10/2025).

Para penari itu adalah warga binaan rutan Kraksaan, menebus masa lalu di balik tembok besi.

Latihan mereka hanya berlangsung seminggu. Di bawah bimbingan dr. Wita dan perawat Vinan, dua tenaga kesehatan rutan, mereka belajar bukan hanya menari, tetapi juga berdamai dengan diri sendiri.

“Awalnya kami hanya ingin membuat kegiatan penyegaran. Tapi ternyata, tarian yang bernama ‘Gema Swara Tari’ ini jadi terapi jiwa,” ujar dr. Wita, tersenyum.

Salah satu penari, Putri (nama samaran), tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.

“Tadi tanganku dingin banget, grogi. Baru pertama kali tampil di depan pejabat, alhamdulillah di sini kami mendapat perhatian serta pelatihan yang baik,” katanya malu-malu, saat turun dari panggung. Namun ketika tepuk tangan mulai riuh, senyum lebar muncul di wajahnya.

Kasubsie pelayanan tahanan, M. Yasin Zaini, mengakui kegiatan itu lahir dari ide sederhana para tenaga medis.

“Hasilnya luar biasa. Kini pembinaan di sini bukan hanya fisik, tapi juga mental. Alhamdulillah tiap Senin dan Rabu di sini kami adakan kegiatan-kegiatan positif, seperti senam, pelatihan-pelatihan seperti tari, dan lain sebagainya,” ungkap Yasin.

Di sela rutinitas, ada sepotong ruang kecil tempat manusia bisa kembali menemukan dirinya.

Bagi para warga binaan, tarian itu bukan sekadar pertunjukan. Ia menjadi bentuk lain dari kebebasan.

“Kadang orang lupa, warga binaan juga manusia. Mereka punya rasa, punya potensi, dan berhak diberi kesempatan untuk tumbuh,” kata dr. Wita, melanjutkan.

Di balik jeruji, tarian itu seolah berpesan: bahwa setiap manusia, seberapa pun salahnya, selalu punya ruang untuk kembali menyalakan cahaya.(Fafa)