KANALNEWS.co, Jakarta – Kementerian Pemuda dan Olahraga mengakui kegagalan calon Pasukan Pengibar Bendera Pusata (Paskibraka) Gloria Natapraja Hamel bertugas pada detik-detik Proklamasi di Istana Kepresidenan, Jakarta, HUT Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus karena kendala administrasi.

“Ini semua karena masalah administrasi. Gloria memiliki paspor Prancis ketika dikumpulkan untuk diikutkan program Indonesia Belia yang akan mengirimkan anggota Paskibraka ke Malaysia 21-29 Agustus,” kata Menpora Imam Nahrawi kepada wartawan di Media Center Gedung Kemenpora, Jakarta, Selasa (16/8/2016).

Gadis usai 17 tahun blasteran Indonesia-Prancis itu berdomisili di Depok Jawa Barat dan memegang paspor negeri Prancis yang menjadikannya warga negara asing.

Menpora menjelaskan Gloria berhak memiliki dua kewarganegaraan seperti dalam aturan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Indonesia yang menyatakan seseorang yang belum berusia 18 tahun yang lahir dari perkawinan campuran berhak memiliki kewarganegaraan ganda.

“Namun aturan itu kan mengamanatkan juga bahwa anak yang lahir sebelum 1 Agustus 2006 (saat disahkan UU Kewarganegaraan) seharusnya mengurus permohonan kewarganegaraan ganda sampai empat tahun setelah diundang-undangkan, namun sampai sekarang pihak keluarga Gloria belum mengajukan permohonan, akhirnya karena memegang paspor negara asing, dia dinyatakan WNA. Padahal dalam aturan Kemenpora Paskibraka harus WNI,” tutur Imam.

Meski gagal menjadi Paskibraka, Menpora memberikan semangat dan tidak putus asa.  Menpora juga kan mendampingi dara berkuit hitam manis itu unutk proses kewarganegaraan dan menjadikan siswi salah satu SMA Islam Yadkia Depok itu menjadi duta Kemenpora.

“Meskipun diputuskan tidak lolos menjadi Paskibraka, Gloria tidak putus asa dan akan menyaksikan teman-temannya besok mengibarkan bendera pusaka di Istana. Kemenpora juga akan mendampingi proses Gloria menjadi WNI dan menjadikannya sebagai Duta Kemenpora yang akan mendampingi kami untuk menyemangati generasi muda,” kata Imam.

Meski gagal menjadi Paskibraka, Gloria mengaku banyak belajar dari masalah dan banyak mendapatkan ilmu yang berharga selama mengikuti proses karantina di PPPKON Cibubur Jakarta Timur.

“Saya bangga telah menjadi anggota Paskibraka. Meskipun saya tidak melanjutkan bersama teman-teman saya mengibarkan sang saka Merah Putih di Istana Negara, tapi selama mengikuti proses karantina menjadi anggota Paskibraka, saya banyak belajar mendapatkan ilmu yang berharga. Jika dikatakan sedih, saya pasti sedih. Tapi ini adalah titik balik bagi saya untuk bangkit. Berkat Pak Menteri saya ingin bangkit lagi,” kata Gloria.

“Paskibraka adalah bagaimana kita mencintai negeri ini dari hati. Jika kita mencintai negeri ini dari hati maka kita akan berusaha memberikan yang terbaik. Saya menghargai undang-undang yang dibuat dari kita, oleh kita dan untuk kita, dan ini harus kita hargai.Setelah ini pak Menteri menawarkan saya untuk menjadi duta Kemenpora. Jika itu yang diamanahkan pak menteri, saya siap,” tambah Gloria.  (Herwan)