Foto Twitter

Kanalnews.co, JAKARTA – Pengamat politik Tony Rosyid mengatakan bahwa program sumur resapan di DKI Jakarta ditiadakan pada 2022. Ia menyayangkan kondisi itu terjadi karena melihat sumur resapan punya manfaat besar.

“Sudah ketuk palu. Anggaran “Sumur Resapan” tahun 2022 dihapus. Banjir dikritik, bahkan dicaci maki, tapi ketika banjir akan diatasi, diganjal sana-sini,” tutur dalam keterangan resminya, Sabtu (11/12).

Baginya, ada dua cara pro-aktif mengatasi banjir. Pertama, normalisasi. Yaitu pembersihan dan pelebaran sungai, supaya aliran air lancar dan normal ke laut. Bablas aire!

“Kedua, naturalisasi. Yaitu mengembalikan air ke tempatnya di bumi. Air berasal dari tanah, dikembalikan ke tanah. Banjir segera surut dan bumi menjadi subur,” ujarnya.

Padahal, sumur resapan akan mengurangi penurunan tanah yang terus menerus terjadi di ibu kota akibat masifnya pembangunan gedung-gedung tinggi yang menyedot cukup besar debit air tanah.

“Sebagian orang meragukan program sumur resapan ini. Apakah betul-betul mampu mengatasi banjir di Jakarta? Bukankah semua tanah di Jakarta gak meresap air? Mesti kembali ke data, bukan pakai asumsi. Dengarkan ilmuwan, bukan dengerin dukun yang suka meramal agar videonya viral,” katanya.

Pemprov DKI sudah melakukan kajian dan uji coba. Ada 26.000 sumur resapan yang diprogramkan untuk tahun 2021. 21.999 sudah selesai.

“Hasilnya? Dua hari kemarin hujan lebat di Jakarta, gak ada banjir. Ini nyata bisa dibuktikan,”ujarnya. (RR)