Foto Kanalnews.co

 

 

Kanalnews.co, PROBOLINGGO – Pagi itu udara masih cukup sejuk, dan bias cahaya matahari masih terasa hangat. Sorak penuh semangat menggema dari Kawasan Pantai Wisata Bentar, Kamis (24/7/2025).

Sekitar 300 peserta tampak begitu kompak mengikuti gerakan senam yang dibuka dengan hentakan musik dan aba-aba dari instruktur. “Whoooooy…!” seruan khas menggema saat para peserta, tak terkecuali para bapak-bapak menirukan setiap gerakan dengan heboh.

Begitulah cara Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, memulai peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia 2025. Bukan sekadar ajang peningkatan kapasitas bagi pengelola program TBC, analis laboratorium (ATLM), dan kader kesehatan, tetapi juga momentum untuk memperkuat kekompakan dan semangat kerja tim melalui berbagai kegiatan fisik dan edukatif.

Setelah senam pagi yang penuh energi, peserta diajak menikmati permainan outbound yang sudah disiapkan di berbagai titik. Dengan iringan musik “Stecu Stecu”, mereka bersorak, berputar, menepuk tangan, menggoyangkan pinggul, hingga menggelengkan kepala. Semangat mereka semakin menyala saat gerakan demi gerakan dijalankan dengan kompak dan percaya diri, seolah telah dilatih berhari-hari sebelumnya.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin membentuk tim yang solid, telaten, dan terampil dalam menangani TBC. Sinergi antar pengelola program, ATLM, dan kader kesehatan adalah kunci dalam mencapai eliminasi TBC 2030,” ujar S. Trisnoharini, S.Kep., Ns., Wasor TBC Dinkes Kabupaten Probolinggo yang juga menjadi inisiator kegiatan ini.

Perempuan yang akrab disapa Yeni otu turut mempromosikan keindahan dan potensi Pantai Bentar sebagai ruang yang menyenangkan untuk edukasi kesehatan.

Fokus Eliminasi TBC 2030

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas layanan TBC, dari aspek penemuan hingga pengobatan kasus. Kabupaten Probolinggo menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, yang diwakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Nina Kartika, M.MKes. Dalam sambutannya, dr. Nina menekankan pentingnya kolaborasi dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan sebagai bagian dari strategi nasional eliminasi TBC.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkuat kapasitas layanan TBC dari aspek penemuan hingga pengobatan kasus. Saat ini, kami telah menemukan 1.750 kasus TBC. Harapan kami, angka ini terus menurun dan eliminasi TBC di Kabupaten Probolinggo bisa tercapai pada 2030,” kata dr. Nina.

Data menunjukkan, Kabupaten Probolinggo saat ini tercatat sebagai daerah dengan angka penemuan kasus TBC tertinggi keempat di Jawa Timur. Menurut dr. Nina, tingginya angka penemuan adalah sinyal positif karena berarti peluang untuk pengobatan semakin besar.

Kerja Lintas Sektor

Menurut Yeni, keberhasilan pengendalian TBC sangat bergantung pada kerja sama lintas sektor. Peran pengelola program, kader, dan ATLM menjadi ujung tombak penanganan.

“Pengobatan TBC tidak hanya untuk pasien, tetapi juga untuk kontak serumah melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Sedangkan pasien aktif mendapat OAT atau Obat Anti Tuberkulosis,” jelas Yeni.

Ia juga menekankan TBC Sensitif Obat (SO) dapat disembuhkan dalam 6 bulan. Sementara untuk TBC Resisten Obat (RO), yang sebelumnya memerlukan pengobatan hingga 2 tahun, kini bisa ditangani dalam waktu 6 bulan melalui regimen Timal M.

“Setelah dua minggu minum obat, jumlah bakteri Mycobacterium tuberculosis sudah menurun. Dalam dua bulan, risiko penularan bisa berkurang hingga 95 persen. Meski begitu, pasien tetap harus menjaga perilaku hidup bersih dan sehat serta menggunakan masker,” tambahnya.

Dukungan Fasilitas Layanan

Kabupaten Probolinggo memiliki 33 puskesmas dan 6 rumah sakit yang menjalankan program TBC. Lima laboratorium PCM berperan penting dalam pemeriksaan sampel dahak, yaitu di RSUD Waluyo Jati, RSUD Tongas, serta Puskesmas Maron, Sumberasih, dan Paiton.

Selain itu, fasilitas kesehatan swasta, klinik, rumah tahanan, dan praktik mandiri tenaga kesehatan juga turut serta dalam deteksi dan penanganan kasus.

Peringatan Hari TBC Sedunia kali ini menjadi contoh konkret bahwa edukasi kesehatan bisa dikemas menyenangkan. Dengan semangat yang dibangun sejak senam pagi hingga diskusi serius tentang eliminasi TBC, Dinkes Kabupaten Probolinggo menunjukkan komitmennya: membentuk barisan yang kuat, tangguh, dan siap mencapai target 2030. (Gin)