KANALNEWS.co, Jakarta – Pemerintah Israel akan menamai stasiun kereta api baru dekat Western Wall atau lebih dikenal dengan Tembok Ratapan yang berada di Yerusalem timur dengan nama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat itu dipuji oleh negara Yahudi itu setelah mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Israel dan putusan Trump itu mengubah kebijakan puluhan tahun Amerika Serikat yang juga melanggar hukum internasional dan berpotensi besar memicu kecaman internasional.
Menteri transportasi Israel Katz menyetujui sebuah rencana untuk memperpanjang jalur rel kereta api berkecepatan tinggi yang tengah dibangun antara Tel Aviv dan Yerusalem ke daerah Yahudi, Jewish Quarter, di Kota Tua Yerusalem dan membangun sebuah stasiun di sebelah Western Wall, stasiun yang berada di dekat situs paling suci tempat orang Yahudi diijinkan beribadah itu akan dinamai “Donald John Trump” atas perintah menteri tersebut sebagai penghormatan atas “keputusan bersejarah dan berani” tentang Yerusalem.
Jalur kereta api baru yang mencakup stasiun yang akan dinamai Trump itu akan mulai menghubungkan Tel Aviv dan Jerusalem tahun 2018, memangkas waktu tempuh menjadi kurang dari 30 menit.
Keputusan kontroversial Trump soal Yerusalem telah memicu unjuk rasa warga Palestina dan ditolak dalam resolusi Majelis Umum PBB yang tidak mengikat.
Israel merebut bagian timur Yerusalem — termasuk Western Wall — dalam Perang Enam Hari 1967 dan kemudian mencaploknya dalam sebuah tindakan yang tidak diakui oleh masyarakat internasional.
Western Wall, sisa terakhir kuil kedua Yahudi, berada di kaki kompleks Haram al-Sharif yang mencakup Masjid Al-Aqsa dan Masjid Kubah Batu, tempat paling suci ketiga bagi umat Islam. Israel menganggap seluruh kota Yerusalem sebagai ibu kota mereka yang tak terbagi, dan warga Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka. (WAN)




































