Foto Antara

 

Kanalnews.co, JAKARTA – Proses evakuasi korban bangunan ambruk di Ponpes Al Khoziny menggunakan alat berat oleh tim SAR telah dilakukan. Hingga Kamis malam, (2/10/2025), tim SAR tidak menemukan korban selamat.

“Sekarang yang masih hilang, yang ada datanya, yang ada fotonya itu sementara terdata 59 orang,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Kamis (2/10/2025).

Keputusan menggunakan alat berat, meski waktu emas atau golden time penyelamatan korban yakni 72 jam atau 3 hari belum berakhir berdasarkan rangkaian asesmen. Tim SAR telah melakukan setidaknya tiga fase untuk memastikan korban masih hidup.

SAR Mission Coordinator (SMC) Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo menjelaskan fase pertama adalah tim melakukan pengecekan tanda-tanda kehidupan di Site A1, A2, dan A3 dengan cara memanggil korban secara bergantian. Namun hasilnya nihil.

Fase kedua dilanjutkan dengan menggunakan search camera yang menjangkau celah hingga kedalaman 5 meter. Dari pematauan tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan.

Hingga pada fase ketiga asesmen dilakukan dengan wall scan suffer 400 untuk mendeteksi keberadaan orang di balik reruntuhan dinding beton. Hasilnya sama, tidak ditemukan adanya tanda napas maupun denyut nadi.

Untuk memastikan kembali kondisi korban yang masih hidup, tim rescue BASARNAS juga telah menggunakan multi search seismic scanner. Peralatan ini berfungsi menangkap getaran dan suara kecil dari dalam reruntuhan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya korban hidup.

“Selama proses asesmen dan re-asesmen, area lokasi reruntuhan disterilisasi agar tidak ada suara tambahan yang memengaruhi hasil deteksi,” kata Bramantyo, Kamis (2/10/2025).

Tim BNPB juga telah mengerahkan drone thermal untuk memperluas pencarian tanda-tanda kehidupan dari udara.

Bramantyo menyebut proses pengangkatan puing-puing reruntuhan dilakukan sangat hati-hati.

“Selain membersihkan material di bagian atas, tim SAR gabungan bersama pihak terkait juga memasang shoring atau penyangga di titik rawan. Shoring ini digunakan untuk menjaga kestabilan reruntuhan saat proses pembersihan dilakukan,” kata Bramantyo.

Dengan tak ditemukan korban hidup, maka data sebanyak 59 santri yang belum ditemukan diduga sudah meninggal tertimbun reruntuhan bangunan. (mel)