Foto ist

 

Kanalnews.co, JAKARTA- Sumardji resmi melepas jabatannya sebagai manajer Timnas Indonesia di seluruh level usia. Keputusan tersebut diambil agar ia dapat berkonsentrasi penuh menjalankan perannya sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN), yang dinilainya memiliki beban kerja tak kalah besar.

Sumardji mengakui, posisi manajer timnas menuntut tanggung jawab yang sangat luas. Bukan hanya soal teknis dan manajemen tim, ia juga harus mengawal mental serta moral pemain, sekaligus selalu hadir mendampingi tim dalam berbagai turnamen.

Ia menyampaikan tugas manajer Timnas Indonesia, baik di level senior maupun kelompok usia, akan dikembalikan sepenuhnya kepada Ketua Umum PSSI Erick Thohir untuk kemudian ditunjuk figur pengganti yang dinilai paling tepat, memiliki keikhlasan, dan komitmen tinggi.

Menurut Sumardji, fokus pada BTN menjadi pilihan rasional mengingat tantangan besar yang menanti ke depan. Ia menilai hampir seluruh timnas, baik senior maupun kelompok umur, membutuhkan perhatian ekstra untuk membangkitkan kembali prestasi yang menurun dalam beberapa waktu terakhir.

Alih-alih merangkap banyak jabatan, Sumardji memilih menaruh seluruh energi pada satu tugas utama agar kinerjanya lebih maksimal. Harapannya, langkah tersebut dapat membantu memperbaiki pencapaian Timnas Indonesia setelah hasil kurang memuaskan yang dialami hampir di semua kategori usia sepanjang tahun ini.

Dalam kesempatan itu, Sumardji juga menyampaikan permohonan maaf kepada publik sepak bola nasional, khususnya atas kegagalan Timnas Indonesia di SEA Games yang tak mampu menembus babak semifinal. Ia mengaku kecewa dengan hasil tersebut dan berjanji akan bekerja lebih keras melalui BTN demi perbaikan ke depan.

“Agar ada sosok lebih baik lagi untuk memperbaiki timnas yang kurang baik. Saya mohon maaf kepada publik terkait kegagalan gelaran SEA Games. Kami tidak bisa lolos ke semifinal, ini menyulitkan dan mengecewakan. Saya mohon maaf sebesarnya, saya akan berusaha di BTN lebih baik lagi,” ucap Sumardji.

“Saya mengakui bahwa tugas manajer sangat berat. Karena memikul tanggung jawab dan harus memikirkan tentang prestasi. Dan kalau prestasi berpikirnya jauh sekali, bahkan hal kecil di luar teknis,” tuturnya. (pht)