Foto ist

 

Kanalnews.co, JAKARTA– Pemecatan dr Terawan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menimbulkan kontroversi. Sejumlah anggota DPR menilai IDI arogan dan mendesak agar mereka segera dipanggil.

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi NasDem Irma Suryani Chaniago mempertanyakan keputusan IDI tersebut. Ia menilai IDI sudah kelewatan.

“Saya sudah usulkan agar Komisi IX memanggil IDI untuk dimintai pertanggungjawaban pemecatan tersebut,” kata Irma saat dihubungi, Minggu (27/3/2022).

Ia bahkan menilai IDI mempersulit uji kompetensi bagi dokter muda. Bukannya mempermudah, kini IDI malah memecat dokter senior yang sudah perpengalaman.

“NasDem justru melihat IDI selain arogan juga sangat eksklusif dan elitis. Indonesia masih butuh sangat banyak dokter tapi coba lihat bagaimana sulitnya dokter-dokter muda yang ingin bekerja akibat sulitnya uji kompetensi. Kalau tidak salah ada 2.500 orang,” katanya.

“Sudah nggak berguna bagi para dokter muda malah mau pecat dokter yang sudah berpengalaman dan mumpuni seperti dr Terawan,” dia menambahkan.

“Harusnya IDI mampu memperjuangkan hal-hal sepele seperti ini. Jangan dibiarkan dokter-dokter muda yang ingin mengabdi pada negara malah dibiarkan menganggur,” katanya.

Sebelumnya dr Terawam resmi dipecat sebagai anggota IDI berdasarkan keputusan MKEK. Terawan dipecat dalam Muktamar Ke-31 IDI yang digelar di Aceh. Terawan pun tidak diizinkan melakukan praktik kedokteran.

Gara-gara Terapi Cuci Otak

Terawan dipecat IDI lantaran terapi ‘cuci otak’ yang dilakukan Terawan karena dianggap belum terbukti secara ilmiah. Apa itu brain wash?

Terapi cuci otak merupakan inovasi metode medis Terawan yang kala itu menjabat sebagai Kepala RSPAD Gatot Soebroto serta Dokter Kepresidenan Republik Indonesia. Terawan mulai memperkenalkan inovasi itu sejak 2004 dan mulai banyak peminat tahun 2010.

Cuci otak adalah istilah lain flushing atau Digital Substraction Angiography (DSA) yang dilakukan Terawan untuk melancarkan peredaran darah di kepala. Cara ini diklaim berhasil menangani berbagai pasien yang mengalami stroke.

Terawan mengklaim 40 ribu pasien telah mencoba pengobatannya. Namun yang menjadi persoalan, IDI merasa terapi cuci otak menggunakan alat DSA yang dilakukan Terawan belum teruji secara ilmiah. Selain itu, Terawan juga melakukan publikasi dan promosi masif dengan klaim kesembuhan di media. (ads)