Jakarta – Ketua KPK, Firli Bahuri, mengaku memiliki makna khusus terhadap hari Pendidikan Nasional, yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, dalam perjalanan hidupnya.

Kisah perjuangan pendidikan yang digelorakan Ki Hadjar Dewantara dalam memberantas kebodohan kaum pribumi dimasa pemjajahan oleh Belanda, menjadi pelecut bagi dirinya untuk tetap bersekolah dan mengejar pendidikan yang lebih tinggi, untuk merubah nasib dan masa depannya.

Berikut pernyataan Ketua KPK Firli Bahuri, terkait perayaan hari Pendidikan Nasional.

Pernyataan Pers
Peringatan Hari Pendidikan Nasional

Ketua KPK
H. Firli Bahuri

#Aktualisasi Hari Pendidikan Nasional, Bagi Kehidupan dan Masa Depan Diri dan Bangsa Indonesia.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh

Hari ini, tanggal 2 Mei 2020, kita peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional, sebuah momentum yang seharusnya tidak diperingati sebagai seremonial belaka, namun esensi dari perjuangan pendidikan nasional yang patut diaktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai perjuangan seorang Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara yang sangat gigih dan pantang menyerah, mencabut benih-benih kebodohan yang ditanamkan bangsa Belanda pada ladang pemikiran rakyat Indonesia, sehingga dapat membuka mata seluruh kaum pribumi akan pentingnya pendidikan kala itu.

Jendela dunia mulai terbuka, seluruh perenungan dan pemikiran bangsa mulai bangkit, ternyata tak ada hukuman yang lebih menyedihkan dari terpenjara dan terbelenggu kebodohan.

Sejarah Ki Hadjar Dewantara-lah yang memicu tekad dan semangat saya agar dapat tetap bersekolah ditengah kondisi kesulitan ekonomi keluarga saat itu. Saya ingat betul kata-kata guru yang menceritakan sejarah Ki Hadjar Dewantara, bahwasanya kebodohan adalah akar atau jurang kemiskinan.

Masih teringat masa-masa sewaktu duduk dibangku sekolah khususnya sekolah menengah pertama yang berjarak 16 KM dari rumah dan hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Pulang sekolah, saya selalu menyempatkan diri menyadap pohon karet yang hasilnya untuk membayar biaya SPP, sebelum membantu Ibu berladang.

Setelah lulus SMP, saya hijrah ke Palembang melanjutkan pendidikan SMA bermodal semangat dan memulai perjuangan hidup lebih berat lagi, dimana barus bekerja serabutan untuk menyambung hidup dan membiayai pendidikan.

Sepulang sekolah, saya berjualan spidol yang saya beli seharga Rp 25 selusin di Pasar Cinde, lalu dijual kembali dengan seharga Rp 50 selusin di Taman Ria Sriwijaya Palembang. Alhamdulillah, dalam semalam saya bisa menjual 6 lusin spidol dan bisa membawa uang Rp 150.

Selain jualan spidol, saya juga ikut berjualan kue hingga mencari upah dengan mencuci mobil untuk bertahan hidup dan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Inilah esensi Hari Pendidikan Nasional yang saya aktualisasikan dalam kehidupan. Nilai-nilai perjuangan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara, semuanya benar. Melalui pendidikan, kita dapat merekuh masa depan yang lebih baik.

Masa depan seseorang tidak ditentukan saat dia lahir tapi semangat belajar, berjuang, bekerja keras dan tentunya semua itu atas izin Allah SWT.

Pesan saya, tetap semangat untuk belajar dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Apalagi saat ini sekolah negeri gratis dan perguruan tinggi banyak memberikan beasiswa kepada mahasiswanya yang tidak mampu atau yang berprestasi.

Tidak ada alasan untuk tidak belajar. Apalagi mengaitkan pandemi covid-19 saat ini sebagai alasan untuk menghentikan kegiatan belajar dan mengajar. Ingat pesan Ki Hadjar Dewantara, “Setiap Orang Menjadi Guru dan Setiap Rumah Menjadi Sekolah”. Belajar bisa dimana saja, kembali pada niat masing-masing.

Terakhir, kiranya kita juga sepatutnya bersyukur dan memberikan penghargaan yg setinggi tingginya kepada para guru yg telah memberikan andil yg sangat besar , guru tidak hanya mendidik anak muridnya tetapi guru sangat menentukan terwujudnya tujuan negara indonesia yg sejahtera, indonesia yang cerdas.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, mari tanamkan kejujuran dan pendidikan anti korupsi sejak dini.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh.