
Kanalnews.co, JAKARTA – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini menegaskan penolakannya terhadap wacana perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar lansia, guru, hingga tenaga administrasi sekolah. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi menggeser fokus utama program yang sejak awal dirancang untuk kelompok rentan dan anak usia sekolah.
Yahya mengapresiasi rencana pemerintah memperluas penerima MBG bagi anak-anak dari pernikahan siri, pernikahan dini, hingga mereka yang putus sekolah. Ia menilai kebijakan itu sejalan dengan prinsip non-diskriminasi dan pemerataan akses gizi.
“Saya menyambut baik perluasan untuk anak-anak usia sekolah, termasuk yang lahir dari pernikahan siri dan pernikahan dini. Semua anak harus punya akses yang sama terhadap program MBG,” ujar Yahya kepada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Namun, ia menilai perluasan sasaran hingga lansia dan tenaga pendukung sekolah sudah keluar dari rel awal kebijakan MBG.
“Saya tidak setuju jika MBG diberikan kepada lansia, guru, tenaga administrasi sekolah, bahkan tukang kebun. Mereka bukan sasaran utama. Fokus MBG sejak awal adalah anak-anak usia sekolah dan kelompok 3B ibu hamil, ibu menyusui, serta balita,” tegas politisi Golkar itu.
Yahya juga menyinggung masih adanya kasus keracunan MBG, yang pada Januari 2026 tercatat mencapai 10 kejadian. Ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan dan disiplin terhadap standar operasional prosedur (SOP) di lapangan.
“BGN harus rutin rapat dengan jajaran daerah untuk memastikan SOP dijalankan. Evaluasi berkala sangat penting agar kasus serupa tidak terus berulang,” katanya.
Ia mengingatkan, meski BGN mengklaim telah membangun 19 ribu SPPG dan menjangkau 55 juta penerima manfaat, keberhasilan program seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah.
“Yang lebih penting itu kualitas. Apakah gizi anak sekolah benar-benar meningkat? Apakah kebugaran mereka membaik dan risiko penyakit menurun? Begitu juga dampaknya terhadap penurunan stunting pada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Jangan hanya mengejar kuantitas,” ujarnya.
Yahya menegaskan, penyaluran MBG kepada lansia dan guru memang berniat baik, tetapi tetap keliru arah.
“Ini sudah melenceng dari tujuan awal. Di negara lain pun, program serupa fokusnya hanya untuk anak-anak usia sekolah,” katanya. (ads)


































