Kanalnews.co, PROBOLINGGO– Ia hanya ingin dicintai dan dicintai kembali. Seperti perempuan lain pada umumnya, sebut saja “Bulan” (21). Ia percaya bahwa cinta bisa membawa kebahagiaan. Tapi yang ia dapatkan justru luka, pengkhianatan, dan ketidakadilan yang membekas dalam.
Berawal dari perkenalan di media sosial pada 2022, perempuan asal Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo itu menjalin hubungan asmara dengan YF.
Bulan tak pernah menyangka bahwa perkenalannya dengan pria asal Desa Brumbungan Kidul Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo itu, akan mengubah seluruh hidupnya. Bukan bahagia namun kecewa.
Keduanya menjalin hubungan cukup lama, hingga pada tahun 2023 mereka bertunangan. Awalnya semua seolah-olah baik-baik saja. Ada janji, Ada harapan. Ada masa depan yang dirancang bersama.
Namun di balik itu, cinta yang dijanjikan mulai berubah wujud tak tentu arah. Pada akhir tahun 2024 Bulan mengetahui dirinya hamil. Ia menyampaikan kabar itu kepada YF, berharap janji-janji indah yang pernah diucapkan akan ditepati. Tapi kenyataan berkata lain.
Bukannya menikahi Bulan, YF justru meminta agar kandungan itu digugurkan. Sebuah permintaan YF yang ditolak mentah-mentah oleh Bulan.
“Ini anak kita,” tegas Bulan bercerita. “Tapi dia malah marah, kami bertengkar, dia bahkan mengancam dan memukuli saya,” ungkapnya melanjutkan.
Kehamilan terus berjalan. Ketika usia kandungan menginjak empat bulan, ia kembali menagih komitmen YF. Namun jawaban yang diterima tetap penolakan.
“Bahkan beberapa kali saya sempat dipukul, karena saya menuntut pertanggungjawaban darinya,” imbuh Bulan.
Keluarga Bulan pun sudah lima kali mendatangi keluarga YF untuk meminta pertanggungjawaban. Hasilnya sama: penolakan, dan desakan untuk menggugurkan kandungan yang kian membesar.
Kini, kandungan Bulan telah memasuki usia kedelapan. Janji-janji dan harapan itu telah lenyap. Yang tersisa hanya rasa sakit dan luka.
“Saya sama sekali sudah tidak mau sama YF,” ucap Bulan penuh kecewa.
Meski sempat ingin bunuh diri, pada Senin (4/8/2025), Bulan akhirnya melaporkan kejadian yang dialaminya ke Polres Probolinggo atas dugaan pidana kekerasan seksual.
“Saya merasa ditipu, dihancurkan psikis. Saya percaya cinta dia, tapi ternyata saya hanya dipermainkan,” ujar Bulan dengan nada getir.
Kakak Bulan, Linda, turut mendampingi pelaporan itu. Ia menegaskan bahwa keluarga menginginkan keadilan. “Kami hanya ingin pelaku dihukum. Jangan ada lagi perempuan yang menjadi korban janji palsu seperti ini,” ucapnya.
Bulan adalah satu dari banyak perempuan yang pernah percaya pada cinta, namun berujung luka. Tapi keberaniannya bicara, melapor, dan melawan, adalah pengingat suara perempuan tak lagi boleh diabaikan. Kini, keadilan bukan hanya dibutuhkan, tapi harus diwujudkan.
Sementara itu, kuasa hukum Bulan, Pradipto Atmasunu, SH.,MH. menegaskan pihaknya akan mengawal kasus ini sampai tuntas.
“Ini bukan sekadar soal hubungan pribadi, tapi ada dugaan pelanggaran hukum yang serius. Klien kami sudah berusaha menyelesaikan secara kekeluargaan, tapi terus diabaikan,” ujarnya pada Selasa (5/8/2025).
Ia berharap agar aparat penegak hukum segera menindaklanjuti laporan ini dengan tuntas. “Bulan berhak mendapatkan perlindungan dan keadilan hukum,” pungkasnya. (Gin)



































