
Kanalnews.co, PROBOLINGGO – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo terus berupaya menumbuhkan budaya baca dan literasi masyarakat sejak usia dini. Bersama TP PKK Kabupaten Probolinggo, Dispersip menggelar sosialisasi metode membaca nyaring di 20 lembaga TK/RA se-Kabupaten Probolinggo. Program ini berlangsung mulai 12 hingga 27 Agustus 2025.
Sosialisasi menyasar guru dan wali murid, sebagai orang terdekat dengan anak usia dini yang tengah berada pada fase golden age. Melalui kegiatan ini, anak-anak dikenalkan dengan buku secara langsung lewat metode membaca nyaring yang dinilai lebih menarik dan edukatif dibandingkan penggunaan gawai.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Probolinggo, Abdul Ghafur melalui Plt Kepala Bidang Pengembangan Budaya Baca dan Pelestarian Pustaka, Hesthiyono Suko Adhi menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan secara berkeliling dengan melibatkan Komunitas Mutiara Rindang Surabaya.
“Jadi, kami berkeliling, dan hari ini ada 3 titik yang kami kunjungi, salah satunya di TK Pembina 1 Kraksaan. Harapannya, dengan mengenalkan metode membaca nyaring, orang tua tidak lagi membiasakan anak bermain gadget. Anak justru bisa dikenalkan langsung pada buku dengan cara yang ekspresif dan menyenangkan,” jelasnya.

Hesthiyono menerangkan, membaca nyaring adalah metode membaca dengan melafalkan teks secara keras dan jelas. Cara ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, kosakata, dan kepercayaan diri pembaca, tetapi juga memberi manfaat bagi pendengar yang menyimak.
Adapun lima langkah membaca nyaring yang diperkenalkan meliputi: persiapan memilih teks, membacakan identitas buku, membaca dengan intonasi dan ekspresi, berinteraksi dengan pendengar, hingga mengajak diskusi dan refleksi setelah membaca.
“Sosialisasi ini tidak hanya sebatas teori, tetapi juga mengajak peserta untuk praktik. Guru dan wali murid diminta mencoba membaca nyaring bersama putra-putrinya. Selepas kegiatan, mereka bahkan diminta membuat video praktik membaca nyaring, baik untuk siswa (oleh guru, red) maupun untuk anak di rumah (oleh wali murid, red),” jelasnya.
Menurutnya, praktik di rumah dan sekolah sangat penting agar metode membaca nyaring tidak berhenti pada transfer informasi.
“Kalau tidak ada praktik, kegiatan ini hanya akan jadi sosialisasi biasa tanpa hasil nyata,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hesthiyono juga membedakan antara membaca nyaring dan mendongeng. Menurutnya, mendongeng lebih mengarah pada ajakan bercerita dengan mendorong imajinasi tanpa menunjukkan buku, sementara membaca nyaring mengenalkan anak langsung pada buku dan isi bacaan.
Salah satu titik kegiatan berlangsung di TK Negeri Pembina I Kraksaan, pada Senin (25/8/2025). Berdasarkan informasi yang dihimpun, kegiatan tersebut diikuti sekitar 25 peserta, terdiri dari 7 kepala sekolah TK/RA dan KB, serta sejumlah wali murid dari TK Negeri Pembina I.
Salah satu peserta yang hadir, Kepala TK Negeri Pembina II Kraksaan, Suprapti, mengaku mendapatkan pengalaman baru.
“Ini pertama kalinya perpustakaan mengadakan sosialisasi membaca nyaring. Selama ini hanya memfasilitasi kunjungan ke perpustakaan, sekarang kami mendapat ilmu bagaimana menyampaikan cerita dengan suara nyaring, ekspresi, serta media pendukung. Itu sangat memotivasi anak-anak,” ungkapnya.
Ia berharap program ini dapat berkelanjutan. “Harapan kami setelah mengikuti sosialisasi budaya baca dan literasi, dapat tercipta kebiasaan membaca dan menulis yang kuat di kalangan siswa, guru, dan masyarakat. Selain itu menumbuhkan nilai moral serta budaya yang baik pada peserta didik sebagai bekal di masa depan,” tambahnya.
Adapun 20 lembaga TK/RA yang dikunjungi:
1. TK PKK Anugrah, Krejengan
2. RA Umi Sundari, Kraksaan
3. TK Zaha, Pajarakan
4. TK PKK Alassumur II, Besuk
5. TK Tunas Harapan, Gading
6. RA Lubbul Labib, Maron
7. TK Dharma Bhakti, Gending
8. TK Al-Hidayah, Clarak, Leces
9. TK Pembina Dringu
10. TK Bhayangkari 19, Gending
11. TK Tunas Mulia, Tambakrejo, Tongas
12. TK Wijaya Kusuma, Maron
13. TK Mawar, Tegalsiwalan
14. TK PGRI R. Ajeng Kartini, Banyuanyar
15. TK IT Al-Amri, Leces
16. TK Pembina, Kraksaan
17. TK Pembina, Sumberasih
18. TK Bina Anaprasa, Paiton
19. TK Cahaya Cendekia, Pakuniran
20. TK PKK Candra Kirana, Kotaanyar
Dispersip menegaskan, sosialisasi membaca nyaring ini tidak hanya mendukung tumbuhnya budaya literasi sejak dini, tetapi juga menjadi bagian dari pencapaian indikator kinerja Dinas. Di antara lain Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM), melalui meningkatnya kunjungan ke perpustakaan serta durasi membaca masyarakat. (Fafa)


































