KANALNEWS.co, Jakarta – PT Aneka Tambang (Antam) menunggu Surat Persetujuan Ekspor (SPE) dari Kementerian Perdagangan, guna menambah kuota ekspor nikel mentah (ore) sebanyak 1,25 juta ton.
Ketika ditemui wartawan di Gedung DPR Senayan, Selasa (24/10), Presiden Direktur Antam Arie Prabowo Ariotedjo, mengatakan, perseroan telah mendapat rekomendasi ekspor dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).
Atas dasar itu, kata dia, Antam mendapat tambahan kuota ekspor nikel ore. Selanjutnya, setelah rekomendasi tersebut diperoleh, Antam sedang menunggu SPE dari Kementerian Perdagangan.
“Yang saya dengar sudah keluar rekomendasi dari Minerba, sekarang ke Kementerian Perdagangan untuk dapat ijinnya,” kata Arie Prabowo Ariotedjo.
Arie menambahkan, Antam akan mengusulkan tambahan kuota ekspor nikel ore sebesar 1,25 juta ton untuk satu tahun ke depan. Hal ini, katanya, sesuai dengan kapasitas fasilitas pengelolahan dan pemurnian (smelter), yang sedang dibangun di Halmahera Timur, Maluku Utara.
“Untuk smelter yang kita mulai bangun di Halmahera Timur itu 1,25 juta ton,” tambah Arie Prabowo Ariotedjo.
Sebelumnya, kata Arie, Antam telah mendapat kuota ekspor nikel ore sebanyak 2,7 juta ton sampai Maret 2018, dan untuk realisasi ekspor sampai September 2017 sudah mencapai 1,9 juta ton. Nikel ore tersebut diekspor ke China.
“2,7 juta ton, sudah terjual sekitar 1,9 juta per akhir September ke China. Pasarnya di sana,” pungkas Arie. (mulkani)



































