Oleh: Salim, A.P.Kom.
Pendiri BALEIYUHCILIWUNG
Anggota Pendiri Aliansi Masyrakat Bogor Selatan (AMBS)
_____
Kita kerap mengira bahwa apa yang muncul di beranda TikTok, Instagram, atau YouTube merupakan hasil kebetulan. Anggapan tersebut adalah kekeliruan fatal. Di balik layar yang kita usap ratusan kali setiap hari, bekerja sebuah sistem bernama algoritma rekomendasi mekanisme teknis yang beroperasi layaknya diktator digital. Di sanalah bersemayam agenda besar yang jarang disadari: standardisasi manusia global.
Echo Chamber dan Penghapusan Memori Kolektif
Secara teknis, algoritma media sosial dirancang untuk menciptakan filter bubble. Sistem ini tidak menyajikan apa yang kita butuhkan, melainkan apa yang kita inginkan berdasarkan respons dopamin. Bagi Generasi Z dan Generasi Alpha, kondisi ini menjadi jebakan hiper-individualisme.
Ketika seorang anak muda Sunda atau Nusantara lebih sering terpapar konten gaya hidup Seoul atau Los Angeles, algoritma akan terus memasok narasi serupa. Dalam jangka panjang, situasi ini melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “pembersihan etnis secara kognitif”. Identitas lokal yang dalam konteks ini saya sebut sebagai Purwadaksi dianggap sebagai noise, gangguan yang tidak bernilai secara komersial dalam pasar global.
“Kekuasaan yang paling efektif adalah kekuasaan yang tidak terlihat, namun mampu membentuk cara berpikir dan karakter manusia sehingga mereka merasa bebas, padahal sesungguhnya sedang diperbudak.” Michel Foucault
Penyeragaman Global dan “The Great Leveling”
Fenomena tren global yang bersifat destruktif seperti brainrot content atau penggunaan slang tanpa akar budaya tidak dapat dipandang sekadar sebagai hiburan. Ada indikasi kuat bahwa pola ini merupakan bentuk subversi ideologis yang menargetkan pembentukan generasi ambigu, rapuh secara identitas, dan terjebak dalam budaya fear of missing out (FOMO-FOMOISASI).
Ketika Generasi Alpha kehilangan ikatan emosional dengan sejarah dan nilai leluhurnya, mereka berubah menjadi massa yang mudah dimobilisasi. Mereka menjadi “koloni baru” tanpa batas negara, bahkan tanpa landasan moral dan kultural. Dalam wacana globalisme, kondisi ini disebut sebagai langkah menuju One World Culture. Tanpa bahasa ibu, tanpa idealisme nasional, dan tanpa prinsip lokal, manusia direduksi menjadi unit produksi dan konsumsi yang patuh terhadap sistem. Penjajahan terjadi bukan lagi secara fisik, melainkan pada tingkat kesadaran dan alam bawah sadar.
Intelektualitas di Era Kepuasan Instan
Confucius pernah mengingatkan, “Barang siapa tidak memikirkan masa depan yang jauh, ia akan menemui penderitaan di hadapannya.” Pertanyaannya, bagaimana Generasi Alpha dapat berpikir jauh jika sejak dini otaknya dikondisikan untuk mengejar kepuasan instan dalam durasi 15 detik?
Hilangnya kemampuan deep thinking (berpikir kritis) menjadi sasaran utama. Ketika daya intelektual melemah, kemampuan berpikir kritis termasuk membedah propaganda dan manipulasi informasi ikut terkikis. Generasi ini akhirnya hanya mengenal permukaan, tanpa pernah menyentuh kedalaman makna.
Pajajaran Anyar: Menolak Menjadi Robot Algoritma
Berbagai pemikir Timur dan tokoh kebudayaan Nusantara kerap menegaskan bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada kemampuannya menjaga identitas. Dalam tradisi Sunda, nilai silih wangi saling mengharumkan martabat menjadi fondasi kebudayaan yang menolak penyeragaman.
Dalam konteks politik kebudayaan, mempertahankan budaya lokal merupakan bentuk perlawanan terhadap imperialisme modern. Mengajarkan bahasa daerah, sejarah leluhur, dan asal-usul identitas bukanlah sikap anti-kemajuan. Sebaliknya, hal tersebut adalah bentuk intelijen budaya untuk memutus mata rantai penyeragaman global yang saya istilahkan sebagai cut and backspace atau deleted liberalisation agenda.
Pemberontakan di Ujung Jari
Setiap kali kita membiarkan Generasi Alpha terpapar konten tanpa penyaring nilai, sesungguhnya kita sedang membuka ruang bagi arsitek ideologi global membangun tembok di sekitar pikiran mereka.
Jangan biarkan anak-anak kita menjadi asing di tanahnya sendiri. Jangan biarkan mereka membanggakan simbol-simbol luar yang maknanya tidak mereka pahami termasuk gaya hidup liberal yang menyusup melalui estetika digital. Dalam arus informasi global, selalu terdapat peluang penanaman simbol dan identitas baru yang ditiru tanpa kesadaran akan maksud di baliknya.
Purwadaksi adalah Kordinat. Tanpa koordinat, manusia akan tersesat. Sudah saatnya kita mendekonstruksi apa yang kita konsumsi di layar, lalu kembali pada jati diri. Hanya dengan menjadi autentik, kita tidak mudah didikte oleh agenda penyeragaman apa pun.
Akhiri Genosida Nalar dan Jati Diri
Realitas hari ini menunjukkan bahwa kehidupan modern telah bergerak secara sistemik. Karena itu, perlawanan pun harus dilakukan secara sistemik. Melawan agenda global tidak selalu berarti menolak teknologi, melainkan menggunakan sistem yang sama dengan fondasi kearifan lokal sebagai orientasi utama.
Mereka memiliki data dan perangkat, tetapi kita masih memiliki kendali atas kesadaran. Pilihannya sederhana: menjadi pengendali diri, atau menjadi objek yang dikendalikan. Keputusan itu sepenuhnya berada di tangan kita. Wallahualam.







































