
Kanalnews.co, PROBOLINGGO — Seniman muda asal Desa Dawuhan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, Muhammad Shodiq, meraih Juara Pertama kategori Emerging Artist dalam ajang United Overseas Bank (UOB) Painting of The Year (POY) 2025 yang digelar di Jakarta, pada Rabu (15/10/2025).
Karya Shodiq berjudul “I Am Here” mengantarkannya menjadi pemenang utama dari 61 finalis yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Papua, Kalimantan, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Makassar, NTT, dan Semarang.
Ia berhak menerima hadiah uang tunai Rp55 juta, piagam penghargaan, serta kesempatan mewakili Indonesia di ajang tingkat Asia Tenggara yang akan dilaksanakan di Singapura pada November mendatang.
Menurut Shodiq, kemenangan tersebut bukan hanya soal prestasi pribadi, melainkan perjalanan panjang tentang bagaimana seni bisa menjadi ruang untuk menghadirkan kembali yang hilang dan memperjuangkan yang terlupakan.
Karyanya, “I Am Here”, lahir dari ingatan keluarga yang kehilangan neneknya sejak 1993 pada masa kekerasan sosial dan pembunuhan terhadap mereka yang dituduh sebagai dukun santet di Banyuwangi dan sekitarnya pada akhir 1990-an.
Di bagian depan kanvas, Shodiq mempertahankan lukisan lama yang dibuat berdasarkan kisah ayahnya saat mencari ibunya yang tak pernah ditemukan.
Sementara di bagian belakang kanvas, ia menempelkan kumpulan foto buram kiriman ayahnya dari Malaysia—seorang pekerja migran yang hidup dalam ketidakpastian tanpa perlindungan hukum.
“Foto-foto itu bukan artistik, tapi potongan hidup. Di situ ada pesan sederhana: Aku masih hidup, aku masih di sini. Itu inti karya ini,” jelas Shodiq pada tim Kanal News melalui seluler, Jum’at (17/10/2025).
Lebih lanjut, menurut Shodiq, melalui penulisan berulang frasa “I Am Here” di sekeliling kanvas, ia ingin menunjukkan bahwa kehadiran—terutama mereka yang dianggap remeh, absen, atau dilupakan—adalah bentuk pernyataan politis. “Setiap sapuan adalah upaya menolak untuk dilenyapkan,” katanya.
Shodiq mengaku sempat ragu sebelum mengirimkan karya tersebut karena dianggap terlalu personal dan gelap. Namun, ia justru menemukan kekuatan artistik dalam kejujuran.
“Saya belajar bahwa seni tidak harus menjawab, tapi bisa menjadi ruang untuk menampung pertanyaan tentang bagaimana kita hadir dan mengingat,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kompetisi UOB Painting of The Year sendiri merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan oleh UOB, bank asal Singapura yang memiliki cabang di Indonesia.
UOB POY telah digelar selama 15 tahun di Indonesia dan menjadi wadah bagi seniman muda untuk menampilkan karya dengan gagasan kuat dan nilai kemanusiaan.
Tahun ini, proses seleksi berlangsung dalam tiga tahap: seleksi foto karya, seleksi video karya, dan wawancara langsung oleh dewan juri.
“Saya kirim karya lewat situs web UOB pada Agustus kemarin. Dari situ disaring hingga tersisa delapan finalis,” jelas Shodiq, melanjutkan.
Sedangkan acara penganugerahan dan pameran karya finalis, digelar di 25hours Hotel The Oddbird dan ASHTA District 8, Jakarta Selatan, pada 15–30 Oktober 2025.
Bagi Shodiq, kemenangan ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan baru. “Setelah ini, saya ingin lebih banyak membaca, berlatih melukis, dan berpikir lebih keras lagi. Seni itu bukan cuma gambar, tapi proses berpikir dan keberanian untuk jujur,” tutupnya.(Fafa)


































