KANALNEWS.Co, Jakarta – Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI) Senin kemarin melakukan pergerakan dengan mengumpulkan para pemain, yang dimulai dari kapten tim yang berlaga di Indonesian Premier League (IPL) dan Indonesia Super League (ISL) untuk menggelar diskusi bertema “Pesepakbola Bersatu” dalam menggalang persatuan yang berlangsung di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta.
Mereka semua berkumpul untuk membicarakan perkembangan sepak bola nasional yang tidak kondusif sehingga merugikan para pesepakbola itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan masih banyaknya permasalahan pemenuhan hak-hak atau gaji para pesepakbola di Indonesia yang belum dilaksanakan oleh klub-klub sepak bola di Indonesia.
Bahkan APPDI berharap agar persepakbolaan di Tanah Air bisa keluar dari masalah dengan adanya satu liga yang bernaung dalam satu federasi dalam hal ini PSSI. Hal itu disampaikan Presiden APPI, Ponaryo Astaman dalam jumpa persnya usai diskusi kemarin.
“APPI mengharapkan, dan mendukung adanya satu liga dalam satu kepengurusan federasi di Indonesia yang diakui secara sah di bawah naungan FIFA untuk mengelola persepakbolaan Indonesia secara profesional,” kata Ponaryo di Hotel Atlet Century, Senin malam.
Seperti diketahui, saat ini, Indonesia tengah bermasalah dengan adanya dualisme kompetisi. Tak hanya itu, Indonesia dibingungkan dengan adanya dua organisasi PSSI yang dipimpin oleh Djohar Arifin Husin dan La Nyalla Mattalitti. Kenyataan ini pula berimbas kepada timnas yang tak jelas juntrungannya sehingga menyebabkan degradasi prestasi timnas di kancah internasional.
Ponaryo menambahkan, harapan APPI tersebut bukan tanpa alasan. Saat ini pemain telah menjadi korban akibat polemik sepak bola nasional. “Bahkan, pemain merasa kebingungan liga manakah yang secara sah diakui FIFA,” ujar mantan Kapten timnas Indonesia ini.
Bahkan menurutnya, tak sedikit pemain yang tak mendapatkan gajinya selama dua bulan, bahkan ada yang hingga enam bulan. Salah satu pemain asing yang beredar di salah satu liga malah ada yang belum terbayar gajinya di musim lalu hingga saat ini.
“Kami meminta kepada klub–klub untuk memenuhi hak-hak pesepakbola khususnya gaji yang belum dibayarkan termasuk ijin pesepakbola asing yang telah disepakati dan diatur di dalam kontrak selambat-lambatnya hingga 7 Juni 2012,” ujar pemain Sriwijaya FC Palembang ini.
Bahkan para pemain ini pun mengancam bahwa jika hingga tanggal 7 Juni mendatang belum ada pemenuhan hak-hak sebagaimana yang telah dijadwalkan tersebut maka pihaknya akan melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan.
“Pesepakbola bersatu ini akan memberi kuasa dan wewenang kepada APPI untuk melakukan negosiasi atau pembicaraan dengan pihak klub yang bermasalah termasuk dan tidak terbatas pada upaya hukum yang tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” ujar Ponaryo.
Ketika ditanya wartawan langkah kongret apa yang dilakukan pemain jika klub masih belum memuhi kewajibannya apakah dengan melakukan mogok atau apa, dengan tegas Ponaryo mengatakan, “APPI saat ini terus menjaga komunikasi dengan klub dan juga terus memberikan alternatif bagi pemain klub. Jadi, bukan tidak mungkin, pemogokan pemain itu bakal terjadi kalau hal itu belum terselesaikan.”
Dikatakan Ponaryo, APPI juga menginginkan adanya keputusan dari FIFA sebagai Federasi Sepak bola Dunia atas permasalahan yang terjadi dalam duan sepak bola nasional selama ini tanpa harus memberikan sanksi kepada Federasi sepak bola di Indonesia (PSSI).
“Apapun keputusan FIFA teerhadap permasalahan persepak bolaan di Indonesia, APPI meminta agar klub untuk tetap memenuhi hak dan kewajiban terhadap pesepak bola serta meminta FIFA untuk mengawasi klub ,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut Ponaryo mengungkapkan bahwa klub-klub yang belum memenuhi kewajibannya terhadap hak pemain ada sebanayk 14 klub baik dari ISL maupun IPL. Klub dari ISL yakni Persija Jakarta, Deltras Sidoarjo, Sriwijaya FC Palembang, Pelita Jaya Karawang, Persela Lamongan, PSPS Pekanbaru dan PSMS Medan. Sedangkan klub dari IPL yakni Persija Jakarta 1928, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, Bontang FC, Persiraja Banda Aceh, danPSM Makassar. Sementar ada satu kub dari Divisi Utama yakni PPSM Magelang.
Sementara anggota FIFPro (Federasi Pesepakbola Profesional Internasional) Legal Asia Committe, Takuya Kamakazhi, yang turut hadir dalam acara itu mengungkapkan dukungannya. “FIFPro mempunyai kekuatan besar untuk melindungi pemain Indonesia. Maka, kami akan mendukung langkah ini,” ungkap Takuya.
Kemudian Asosiasi Sepak Bola Australia, yang diwakili presidennya, Simon Colosimo, punya pendapat yang sama. “Melihat beberapa masalah itu, kami dari Asosiasi Sepak bola Australia sangat mendukung pemain dan ingin menolong mereka untuk bermain layak di Indonesia,” ujar Simon. Ranoe Nirawan





































