Foto : Saat acara literasi

Kanalnews.co, SURABAYA – Komunitas pegiat literasi di Surabaya yang dikenal dengan sebutan Difiliasi (Diskusi Filsafat Lintas Generasi) menjalin kolaborasi dengan salahsatu komunitas Bonek yang bergerak di bidang literasi, Sabtu malam (25/06).

Dengan mengusung konsep “Sambung Sedulur” diskusi kali ini mengangkat tema “Memahami Sepakbola melalui Literasi”.

Kegiatan diskusi tersebut disambut antusiasme dari berbagai elemen. Sebagian diantaranya ialah kalangan bonek dan juga beberapa kalangan yang memang aktif dalam dunia literasi yang ada di kota Surabaya.

Kegiatan diskusi ini bertempat di cafe Bolak-balik Satu Atap, tidak jauh dari titik nol dari kota Surabaya.

Dalam obrolan tersebut salah satu anggota dari BWF (Bonek Writers Forum) Cak Dedi menceritakan sekilas tentang terbentuknya komunitas Bonek yang bergerak di bidang literasi itu.

“BWF berdiri karena kecintaan kami terhadap Persebaya. Selain itu, kami juga ingin mengabadikan jejak Persebaya melalui tulisan-tulisan. Dari yang hanya tulisan artikel, hingga bisa menerbitkan 4 buku.” ujarnya.

Hal tersebut juga diungkapkan oleh Cak Iwe, alasan dia ingin bergabung dengan BWF karena memiliki satu tujuan yang sama, yakni kecintaan terhadap klub sepakbola, Persebaya.

“Aku gabung BWF karena kecintaan ku pada Persebaya. Dan di sini (BWF) bagaimana caraku untuk memberi sesuatu pada Persebaya,” ungkapnya.

Dengan mengidentitaskan diri sebagai salahsatu kelompok suporter yang memahami pentingnya literasi, seperti yang disampaikan oleh Cak Dedi, dukunglah Persebaya dengan cara apapun. Namun, budaya literasi juga harus melekat pada Bonek.

“Silahkan mendukung Persebaya dengan cara apapun. Tapi, seharusnya juga mempelajari tentang pentingnya literasi. Artinya turut dalam mengarsipkan sejarah dan perjalanan Persebaya,”

“Tujuannya BWF ialah untuk mengajak kawan-kawan Bonek agar saling berinteraksi melalui literasi,” ujarnya.

Prima, salahsatu dari peserta diskusi pun ikut menambahkan, jika menikmati sepakbola tidak melulu tentang datang ke stadion mengikuti eurofianya, ataupun menonton siaran pertandingan melalui televisi. Pilihan alternatifnya, pendukug bisa mengakses berbagai literatur mengenai klub sepak bola yang diidolakan.

“Menikmati sepakbola tidak melulu tentang datang ke stadion kemudian mengikuti suasana yang ada. Juga tidak hanya membicarakan menang dan kalah. Namun, penikmat atau pendukung sepakbola juga bisa mengakses dan memperbanyak khazanah ilmu pengetahuan melalui literasi.” ujar Prima.

Cak Dedi pun menambahkan jika literasi tak melulu tentang baca dan menulis saja. Namun, mendengarkan melalui platform digital juga merupakan literasi yang ada di jaman ini. Sebab menurutnya, audiopodcast ialah media literasi yang tidak ada batasannya dan memiliki kelebihan, sehingga ketika berkegiatan pun kita juga bisa mendengarkan audiopodcast.

“Sudah saatnya BWF memiliki media literasi berupa audio karena media tersebut tidak ada batasan. Nantinya, audiopodcast akan banyak dinikmati oleh banyak orang,”

“Kelebihan media berbasis suara, bisa dilakukan sembari berkegiatan lainnya,” Imbuhnya.

Adapun, pada sesi tanya-jawab, dimana para audience bisa bertanya kepada pemateri.

Miki, seorang pegiat literasi dari komunitas Difiliasi yang menanyakan mengenai rivalitas yang terjadi antar klub sepakbola, lebih spesifiknya ialah rivalitas dengan klub sepakbola asal Malang, Arema FC.

“Cak, ketika pertandingan melawan rival nih, Arema FC, bagaimana taggapan Anda mengenai fenomena kekerasan antar supporter ketika setelah pertandingan,” ujar miki.

Menurut Cak Iwe, rivalitas tak bisa dipisahkan dari setiap pertandingan. Rivalitas juga sebagai bumbu dalam sepakbola. Tapi bukan untuk saling menyakiti, bahkan saling membunuh.

“Rivalitas itu sebagai bumbu dalam persepakbolaan Indonesia. Tetapi, bukan saling membunuh. Rivalitas cukup 90 menit pertandingan saja,” tambahnya.  (Dbr)