EQUESTRIAN atau ketangkasan berkuda adalah salah satu olahraga mahal dan  terkesan asing di telinga masyarakat Indonesia. Pasalnya, equestrian tidak seperti olahraga umum lainnya seperti sepakbola, bulutangkis, bola voli, dll. Untuk berlatih equestrian, butuh biaya yang sangat mahal dan tempat khusus, karena fasilitas equestrian di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. Hal itu tidak terlepas dari mahalnya alat-alat untuk berlatih equestrian, khususnya kuda-kuda tangkas yang kebanyakan didatangkan dari Eropa.

Faktanya, karena keterbatasan sarana dan pra sarana itu, sangat sulit untuk melahirkan atlet-atlet berkuda andal di Indonesia. Kondisi ini jelas menjadi kendala besar dalam membina equestrian di Indonesia. Padahal, olahraga kelas atas ini telah dipertandingkan pada event-event internasional seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.

Adalah Yayasan Adria Pratama Mulya yang tergerak untuk memberikan solusi untuk melahirkan atlet-atlet berkuda andal. Solusi itu adalah APM Boarding School atau SMA Adria Pratama Mulya, yang diresmikan 9 Desember lalu. Terletak di kawasan Tigaraksa, APM Boarding School siap menggebrak dunia ketangkasan berkuda baik di Indonesia maupun Asia dan dunia. Memang masih terlalu dini berbicara prestasi terkait keberadaan sekolah berasrama ini, namun kelahiran APM Boarding School seakan seperti oase di tengah kekeringan prestasi ketangkasan berkuda Indonesia.

APM Boarding School berdiri atas prakarsa Triwaty Marciano dan Nadia Marciano. Ibu dan anak inilah yang menjadi ‘bidan’ kelahiran APM Boarding School. Mereka pula yang menjadi motor penggerak APM Boarding School. Triwaty adalah pembina Yayasan Adria Pratama Mulya, sedangkan Nadia ketua yayasan.

APM Boarding School berdiri di kampung Ciatuy, Tigaraksa. Memang dilihat dari segi letak, keberadaan APM Boarding School ini memang cukup jauh, bila dilihat dari jaraknya dengan ibukota, Jakarta. Tetapi dari itu bukan jadi kendala besar. Pasalnya, di sekolah ini juga disediakan asrama. Selain agar para siswa lebih fokus belajar dengan pelajaran, di sini mereka juga akan didiik menjadi atlet berkuda andal.

“Itu sesuai dengan moto APM Boarding School yaitu ‘Where Education Meets Sport’. Jadi kami ingin sekolah ini tidak hanya mencetak generasi muda Indonesia yang berhasil di bidang akademik, tetapi kami juga ingin menjadikan mereka sebagai atlet berkuda yang andal di kemudian hari. Tentunya dengan sarana dan pra sarana serta para pendidik berkualitas baik di sisi pendidikannya maupun di arena berkuda, kami optimis harapan ini bakal terwujud di masa mendatang,” ujar Triwany Marciano saat peresmian APM Boarding School, 9 Desember lalu.

Keyakinan itu memang cukup beralasan, khusus untuk ketangkasan berkuda, saat ini APM Boarding School memiliki lebih dari 30 kuda tunggang asal Eropa. Selain itu, pelatih-pelatih andal yang juga mantan juara dari Jerman juga didatangkan Yayasan Adria Pratama Mulya. Mereka adalah Bjorn Kuwertz dan  Manfred Schildt.

Kiprah pertama APM Boarding School langsung terjadi dengan tergelarnya kejuaraan nasional equestrian yang juga menjadi kejuaraan equestrian antar SMA, Cinta Indonesia Open (CIO) 2012, 7-9 Desember lalu. Memang di CIO 2012 ini, dominasi rider senior masih terjadi. Namun melihat animo dan banyaknya peserta yunior, khususnya untuk kejuaraan antar SMA, diyakini akan menjadi modal untuk melahirkan atlet berkuda andal di masa mendatang.

Untuk mewujudkan harapan itu, Yayasan Adria Pratama Mulya mempercayakan pengelolaan kepada ketua umum yayasan, Nadia Marciano. Putri pertama pasangan Triwaty dan Marciano Norman, Kepala BIN yang juga Ketua Umum Taekwondo Indonesia ini, memang seorang ahli dalam urusan berkuda. Selain sebagai atlet berkuda yang pernah meraih gelar juara di beberapa kejuaraan internasional, Nadia adalah akademi berkuda. Ia adalah peraih gelar Bachelor of Science ilmu Administrasi Berkuda di William Woods University, Missouri, Amerika Serikata.

Patut ditunggu hasil kerja keras dan totalitas ibu dan anak, Triwaty dan Nadia Marciano, bersama APM Boarding School-nya. Apalagi mereka telah bertekad untuk lebih memasyarakat olahraga equestrian ke masyarakat umum, sehingga tidak terkesan sebagai olahraganya orang kaya saja. Salah satu terobosan yang dilakukan adalah menyiapkan program beasiswa kepada murid-murid tidak mampu tetapi memiliki prestasi dan bakat bagus di cabang equestrian.

“Tentu kita tidak bisa berjalan sendiri untuk mewujudkan cita-cita serta visi misi APM Boarding School dalam membangun prestasi equestrian Indonesia. Kami butuh dukungan banyak pihak, baik pemerintah maupun swasta. Yang pasti, program beasiswa itu pasti akan kami jalankan, disamping program reguler lainnya,” tandas Triwaty.

APM Boarding School telah berdiri. Selain menambah sarana dan prasarana baru equestrian di Indonesia, kelahiran sekolah ini juga seakan menjadi inspirasi untuk membangkitkan prestasi berkuda Indonesia. Berkaryalah APM Boarding School. Ukirlah emas, perak, dan perunggu buat Indonesia tercinta. (Ballian Siregar)*