Oleh: Dadi Surjadi S.Pd, M.Si

Pemusatan latihan atlet di Indonesia khususnya atlet remaja sudah dilakukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Program itu dijalankan oleh Pusat Pembinaan dan Latihan pelajar (PPLP) yang tersebar di 34 Provinsi di Indonesia.

Terkini, sudah banyak atlet berprestasi yang mencetak rekor di skala internasional. Beberapa nama meraih prestasi selama beberapa tahun terakhir itu antara lain Lalu Muhammad Zohri yang merupakan atlet binaan dari PPLP NTB. Kemudian ada juara dayung Asia di Thailand yang diwakili atlet eks PPLP Sulawesi Tenggara atas nama Julianti dan Wa Ode Fitri Rahmanjani, mendapatkan prestasi emas di nomor 4 putri pada 2017 lalu.

Selain itu, ada juga lifter dari SKO Ragunan Kemenpora Lifter Muhammad Faathir yang membuat kejutan pada Kejuaraan Angkat Besi Junior Asia 2020. Bukan hanya tiga emas, dia juga memecahkan memecahkan rekor dunia junior. Satu cabang dengannya, di nomor 49 kilogram putri Windy Chantika membuat rekor dunia junior dengan angkatan 190 kilogram di SEA Games 2019 lalu.

Yang paling fenomenal, tentu saja di cabang olahraga sepak bola yang selama ini menjadi cabang paling populer di Indonesia. Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaeman, dua pemain yang dididik oleh SKO itu mampu menembus klub di Eropa. Egy di Lechia Gdansk kontestan Ekstraklasa di Polandia serta Witan di FK Radnik Surdulica, kompetisi Serbia.

Dengan sederet keberhasilan pembinaan itu, tentu tidak bisa membuat Indonesia puas. Karena itu, arahan Presiden Jokowi saat Hari Olahraga Nasional (Haornas) pada 9 September 2020 lalu, dengan tegas meminta Kemenpora untuk melakukan review ulang mengenai sistem pembinaan keolahragaan di Indonesia. Tujuannya, untuk menghasilkan lebih banyak atlet-atlet yang berprestasi di kancah internasional.

Nah, berbicara tentang pembinaan atlet, program itu merupakan suatu sistem yang kompleks dan melibatkan berbagai macam profesi. Antara lain, pelatih untuk mengasah keterampilan bermain atlet, psikolog untuk mendampingi psikologi atlet, fisioterapi, dan yang tidak kalah penting yaitu ahli gizi untuk memastikan atlet mendapatkan nutrisi yang sesuai.

Pembinaan atlet PPLP di daerah juga dikoordinasikan secara terpusat oleh Bapak Dadi Sujadi, S.Pd., M.Pd. selaku Kepala Bidang PPLP di Kemenpora RI, termasuk koordinasi berbagai profesi yang terlibat pada pembinaan atlet tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Mirza Hapsari dari Universitas Gadjah Mada di pusat pelatihan atlet milik Kemenpora RI, menunjukkan hasil bahwa gizi mempengaruhi 69,8% dari performa atlet. Pendampingan gizi yang dilakukan yaitu pengukuran status gizi rutin setiap bulan, pendampingan saat waktu makan dan latihan, serta edukasi pada atlet.

Gizi juga menjadi hal yang tidak terpisahkan dari atlet, mengingat setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan memberikan efek pada energi untuk latihan maupun tanding. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa konsumsi protein yang sesuai dengan kebutuhan memberikan efek positif pada pembentukan otot atlet. Pemberian dan pengawasan dari segi gizi bagi atlet menjadi salah satu kunci kesuksesan terutama apabila mulai diberikan saat masa pertumbuhan (remaja).

Berdasarkan hal tersebut, saya selaku Kepala Bidang PPLP di Kemenpora RI yang memegang koordinasi pusat 34 PPLP di Indonesia, dapat mendukung program gizi bagi atlet. Salah satu rencana yang menjadi tanggung jawab tersebut, ialah dengan melakukan penempatan ahli gizi di PPLP seluruh provinsi. Nantinya, untuk memudahkan program tersebut, akan dilakukan melalui skema dekonsentrasi.

Salah satu harapannya, program ini dapat menjadi salah satu langkah konkret sesuai dengan arahan Presiden Jokowi saat Haornas 2020. Dengan asupan gizi yang optimal dan tepat serta diberikan melalui pendampingan dan pengawasan ahli gizi, maka diharapkan dapat menunjang peningkatan prestasi olahraga. Peningkatan prestasi olahraga sendiri harus diperhatikan dengan sangat, pasalnya keinginan itu merupakan program Prioritas Nasional III yang masuk dalam RPJMN 2020 – 2024.

*Penulis adalah Kepala Bidang Pembinaan PPLP Kemenpora RI