Jakarta – Di tengah eskalasi konflik global yang kian dinamis, organisasi kemanusiaan Ruang Damai menyelenggarakan webinar bertajuk “Spirit Nyepi dan Idul Fitri untuk Perdamaian Global” pada Minggu (16/03). Acara ini menyoroti keunikan momentum tahun 2026 di mana Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri jatuh dalam waktu yang berdekatan, membawa pesan mendalam tentang pengendalian diri dan refleksi bagi harmoni dunia.

Dalam sambutannya, Zainal Abidin selaku Direktur Eksekutif Ruang Damai menekankan bahwa pertemuan dua perayaan besar ini merupakan momentum luar biasa bagi Indonesia untuk memberikan pelajaran perdamaian kepada dunia, terutama di tengah polemik global seperti yang terjadi di Iran.

“Ruang Damai percaya bahwa dialog adalah jembatan menuju perdamaian. Membawa nilai-nilai luhur dari agama yang kita percayai dapat menjadi pondasi kuat bagi perdamaian di kancah global,” ungkapnya.

Pemateri pertama, Wawan Gunawan selaku Direktur Eksekutif Jakatarub, memaparkan bahwa kearifan lokal adalah kebijakan dan sikap hidup yang terbentuk dari interaksi panjang manusia dengan lingkungannya. Ia merujuk pada pemikiran Gus Dur mengenai konsep “Indonesia Islam”—di mana nilai-nilai agama tumbuh dan berakar dalam konteks budaya lokal tanpa menghilangkan identitas asli masyarakat.

Wawan juga menggarisbawahi tiga tantangan budaya saat ini yakni, Existential Vacuum dimana masyarakat kehilangan kesadaran akan identitas budaya asal, Pluralitarisme Budaya yaitu munculnya rasa superioritas terhadap budaya sendiri dan Sleeping Giant merupakan potensi besar keberagaman Indonesia yang belum optimal dimanfaatkan untuk perdamaian.

“Salah satu contoh kearifan lokal adalah tradisi menyekar saat Idul Fitri. Ini bukan sekadar ritual, tapi dialog spiritual dan simbol penghormatan yang mengandung nilai kemanusiaan universal,” tambah Wawan.

Memasuki perspektif keamanan global, Robi Sugara selaku kaprodi HI UIN Jakarta, mengingatkan bahwa dunia kini memasuki era Revolusi 6.0, di mana batas antara dunia nyata dan digital kian kabur. Ketidaksiapan menghadapi era ini dapat memicu penyakit mental yang merusak sendi-sendi sosial.

Dari sisi Hubungan Internasional, Robi mengkaji lima teori perdamaian, termasuk Teori Perdamaian Liberal yang menekankan interdependensi ekonomi dan peran institusi seperti PBB. Ia juga menyoroti pentingnya Positive Peace (Perdamaian Positif), di mana perdamaian tidak hanya berarti ketiadaan perang, tetapi juga hadirnya kesejahteraan dan stabilitas negara yang terjaga.

Pemateri ketiga, I Ketut Sae Tanju selaku Ketua PERSADHA Nusantara Provinsi Bali, menegaskan bahwa Hari Raya Nyepi adalah identitas budaya dan religius masyarakat Bali yang khas dan patut dihormati sepenuhnya. Ia menekankan bahwa Nyepi bukanlah ruang untuk negosiasi antar-perayaan, melainkan titik temu nilai.

“Nyepi dan Idul Fitri memiliki esensi yang serupa: pengendalian diri, penyucian batin, dan refleksi. Nyepi dengan keheningannya dan Idul Fitri dengan kembalinya pada kesucian. Kesamaan nilai ini adalah modal utama kita untuk memperkuat persaudaraan di tengah masyarakat majemuk,” jelas I Ketut Sae Tanju.

Melalui webinar ini, Ruang Damai mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mengedepankan dialog dan toleransi. Dengan memahami tradisi masing-masing secara mendalam, Indonesia dapat menjadi prototipe bagi dunia dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.