Oleh: Herwan Pebriansyah
KANALNEWS.co – Jakarta, Dengan tema We are what, where, when and how we eat, PT Sari Husada, perusahaan penghasil nutrisi untuk ibu dan balita melibatkan beberapa pewarta dari Jakarta dan daerah serta para blooger dalam acara ‘Jelajah Gizi’ di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta pada 2-4 November 2012.
Acara yangi merupakan rangkaian program bincang kesehatan bulanan Nutritalk dengan menghadirkan para ahli di bidangnya. Untuk program jelajah gizi ini menghadirkan Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ahmad Sulaiman.
“Pilihan kami mengunjungi Kabupaten Gunung Kidul, karena wilayah ini sebagai wilayah tandus dan kekurangan air, sebagian besar wilayhnya berupa pegunungan karst yang tidak memungkinkan menyerap air, tapi di balik itu semua ternyata menyimpan potensi pangan yang berlimpah,” ujar Corporate and Legal Director PT Sari Husada Yeni Fatmawati kepada Kanalnews disela-sela Nutritalk di Yogyakarta, yang ditulis pada Senin (5/11/2012).
Head of Corporate Affairs PT Sari Husada, Arif Mujahidin menambahkan, selain potensi pangan yang berlimpah kota yang terletak di sebelah Tenggara Provinsi Yogyakarta itu berlimpah juga menyimpan potensi budaya dan wisata yang layak untuk di kunjungi diantaranya pengrajin kayu di desa Bobung dan pantai Indrayanti.
“Kerajinan kayu desa Bobung yang dibuat secara handmade mampu dipasarkan ke seluruh Indonesia dan juga diekspor ke USA, Eropa, Asia dan Afrika,” katanya.
Menurut Arif, potensi sumber pangan lokal masyarakat yang sangat berlimpah tidak dapat diremehkan. Walaupun terlihat sederhana, makanan-makanan itu mempunyai banyak kandungan gizi yang tinggi,
“Banyaknya potensi panganan lokal, membuktikan kepiawaian masyarakat Gunung Kidul untuk menggali dan mengolah makanan itu bisa jadi sajian kuliner khas wilayahnya,’’ katanya.
Beras Merah Cegah Depresi
Beberapa jenis makanan khas Gunung Kidul diantaranya padi gogo atau beras merah, tiwul, ubi jalar ungu, daun ubi jalar, gathot, Sukun, tempe, toge kedelai, belalang goreng, ikan wedhar, ikan laut dan lainnya.
Profesor Ahmad mengatakan, padi gogo atau beras merah yang di tanam masyarakat, lebih organic dan menyehatkan karena mempunyai kandungan karbohidrat yang luar biasa. Tanaman semusim yang hanya mengandalkan turunnya air hujan ini, tumbuh tanpa semprotan zat kimia dan tidak disosok.
“Dapat dikatakan padi ini hampir dibiarkan, jarang-jarang disemprot dengan menggunkan pestisida dan mungkin dipupuk juga jarang. Paling diurus dicabutin rumputnya.Jadi, secara alami padi ini dibiarkan,” ujarnya.
Selain itu, zat besi yang terkandung di dalam beras merah lebih tinggi di bandingkan dengan beras putih, pada kulit ari beras merah terdapat kandungan asam lemak esensial yang sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang terutama bayi maupun anak.
“Pada kulit ari banyak serat yang bermanfaat. Tak heran apabila kandungan serat pada nasi merah dua kali lebih tinggi dibandingkan nasi putih,” ujarnya.
Warna merah yang terdapat pada beras merah adalah pigmen-pigmen antioksidan yang dapat mencegah oksidasi asam lemak yang dapat memicu radikal bebas dan menyebabkan kanker dan mampu membantu menurukan kolestrol buruk di dalam darah
Kandungan tiamin atau vitamin B1 pada beras merah sangat penting untuk metabolisme karbohidrat dan energi.Vitamin ini dibutuhkan untuk neurotrasmintter atau “anti-stres” dan juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh serta mampu meningkatkan kemampuan tubuh untuk menahan kondisi stres.
“Kalau orang kembali banyak mengonsumsi beras merah bisa mencegah depresi, kandungan vitamin B1 bermanfaat untuk metabolisme karbohidrat. Kandungan itu bisa menangkal orang yang depresi,” tandasnya.*









































