Kanalnews.co, DEPOK– Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Zainudin Amali memberikan sejumlah wejangan kepada Ormas Pemuda Pancasila (PP). Menpora mengingatkan pentingnya PP untuk melakukan transformasi dalam menghadapi perkembangan zaman.

Menpora Amali menjadi narasumber dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Majelis Pimpinan Nasional Ormas Pemuda Pancasila (MPN PP) di Hotel Bumi Wiyata, Depok Jawa Barat, Sabtu (3/4/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Menpora Amali yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) Pemuda Pancasila mengingatkan semua kader dan anggota untuk kembali pada tujuan organisasi ini dilahirkan yakni untuk mempertahankan dan menjaga Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tinggal Ika dan NKRI.

“Semua orang tahu bahwa itulah tugas Pemuda Pancasila organisasi kemasyarakatan yang lahir di negeri ini yang mempunyai tugas untuk mempertahankan NKRI, Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa serta bentuk kebhinekaan,” kata Menpora Amali.

Menpora Amali menyampaikan dalam perjalanan bangsa ini, banyak dinamika dan ujian-ujian terhadap dasar negara dan ideologi negara termasuk akhir-akhir ini ada muncul intoleransi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, peran PP sangat dibutuhkan.

“Sampai hari ini masih kami rasakan ujian terhadap kebhinekaan kami. Di sana-sini muncul intoleransi dan lain sebagainya. Tetapi Pemuda Pancasila sebagai organisasi kemasyarakatan tentu tidak boleh bergeser sedikitpun dari sejarah kelahirannya,” dia menambahkan.

“Karena itu sebagai sebuah organisasi. Maka sudah selayaknya kita bertransformasi menyesuaikan dengan tantangan-tantangan yang ada, sesuai situasi saat ini,” ungkapnya.

Menpora Amali pun menyoroti maraknya sikap pragmatisme.

“Hal-hal yang seperti ini sekarang sedang melanda masyarakat kami dan menjadi tantangan buat Pemuda Pancasila. Kemudian fenomena individualis, tidak mau peduli orang lain, tidak mau tahu dengan orang lain, yang penting bisa survive, bisa hidup sendiri itu juga menjadi tantangan dari organisasi kami dan tentu yang paling juga terasa adalah interaksi di kalangan kader,” tegasnya.

Menpora juga mengingatkan agar Pemuda Pancasila tidak lagi terjebak dengan nama besar di masa lalu. Sebab perubahan arus membuat kebesaran organisasi mulai meredup.

“Saya harus katakan kita jangan merasa bahwa kami masih besar, masih kuat orang lain melihat internal kita,” ujarnya mengingatkan.

Oleh karena itu, Menpora Amali meminta para pengurus untuk kembali meningkatkan peran dan partisipasi di tengah masyarakat mulai dari kepengurusan paling bawah hingga pusat. Dengan perkembangan zaman, organisasi mendapat banyak persaingan.

“Ini harus menjadi keprihatinan kami dan harus membangkitkan kembali gairah kita karena saya punya keyakinan kalau kami semua bersama-sama kembali kepada ketika tahun-tahun 80-an 90-an. Maka Insya Allah organisasi ini akan diperhitungkan termasuk kalau berbicara untuk 2024,” paparnya.

Menpora pun menyarankan Pemuda Pancasila untuk melakukan sejumlah hal untuk memajukan organisasi. Salah satunya mensterilkan organisasi tersebut dari pengaruh buruk dari sifat pragmatisme dan individualis.

“Kedua adalah menjernihkan dan melancarkan kembali proses konsolidasi organisasi. Ini penting karena kalau satu organisasi sudah mandek konsolidasinya pasti dia tinggal nama. Kami tidak mau itu terjadi dalam organisasi yang kami cintai ini,” jelasnya.

Selain itu, Menpora juga meminta Pemuda Pancasila untuk melakukan pendataan keanggotaan di seluruh Indonesia baik anggota lama maupun anggota baru di tingkat-tingkat basis.

“Kami merasa anggota kami banyak tanya wilayah ini berapa, cabang ini berapa, pasti sekarang ini saya yakin tidak bisa menunjukkan data,” katanya.

“Disamping keanggotaan kemudian kepengurusan dari wilayah cabang, anak cabang, ranting dan anak ranting semua ini harus ditata kembali,” harapnya.

Lebih lanjut Menpora Amali menyoroti masalah terakait konsolidasi wawasan perkaderan. Kader-kader baru diharapkan diberi wawasan tentang sejarah awal kelahiran organisasi ini dan juga program-program keterlibatan di masyarakat kembali dihidupkan .

“Saya senang ada bencana alam saya masih melihat ada Pemuda Pancasila, ada kesusahan masyarakat saya masih melihat ada Pemuda Pancasila. Tetapi ini mungkin saja hanya spontanitas, by accident, program saran saya harus by design, harus direncanakan,” pesannya.

“Apa yang dilakukan oleh wilayah apa di lakukan oleh cabang sehingga secara terus-menerus sehingga kita punya informasi yang lengkap salah satu kelemahan organisasi manapun berada sekarang ini adalah tentang data sekarang agak mudah kami punya big data yang kami bisa dapatkan,”

Menpora Amali juga meminta acara Pemuda Pancasila mengoptimalkan peran media, terutama media sosial dalam mesosialisasikan dan menyebarluaskan kegiatan organisasi.

“Kami sudah tidak bisa dihindarkan, sekarang sudah era teknologi informasi. Kami tidak bisa lagi menggerakkan organisasi ini secara manual semuanya sudah serba digital. Saya tentu berharap media sosial kami yang tentu sekarang sudah ada bisa didorong dioptimalkan lagi,” katanya.

“Karena sekarang apapun kegiatan kalau tidak terinformasi kepada masyarakat maka itu akan percuma. Kami menggunakan media-media konvensional itu tetap tetapi yang lebih cepat adalah menggunakan kecepatan media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, YouTube dan lain-lain,” demikian Menpora Amali. (bnd)