Jakarta, KanalNews.co – Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) memperkirakan produksi air minum dalam kemasan (AMDK) nasional di tahun 2020 mencapai 29 miliar liter.  Sementara, sebanyak 69% dari pangsa pasar AMDK itu adalah galon atau sekitar 20 miliar miliar liter. Jika satu galon itu isinya 20 liter, berarti industri AMDK membutuhkan 1 miliar galon kosong per tahun.

“Kalau dikalikan dengan berat satu galon yang 770 gram, itu berarti kita perlu 770 ribu ton plastik kalau tidak kita pakai ulang,” ujar Ketua Umum (​Aspadin), Rachmat Hidayat, pada acara Tadarus Teknologi bertema “Darurat Sampah Plastik Mengancam Negeri” yang dipandu Wakil Sekjen PBNU, Imam Pituduh di NU Channel.

Menurut Rachmat, jika dibandingnya dengan kemasan air minum botol kecil yang beratnya 19 gram, dibutuhkan sekitar 40 miliar botol kecil untuk memenuhi para konsumen AMDK galon. “Sekarang bayangkan, dengan kita pakai galon guna ulang sejak tahun 1984, kita telah menghemat pemakaian plastik sebanyak sekian sekian miliar ton plastik,” tuturnya.

Artinya, kata Rachmat, bisa dibayangkan beban lingkungan kalau 770 ribu ton plastik per tahun itu hanya dijadikan atau “dibuang sebagai sampah”.  Mendapat data itu, Imam Pituduh terperangah seraya mengatakan betapa dahsyatnya polusi lingkungan yang disebabkan sampah plastik jika galon guna ulang tidak diproduksi.

Rachmat menyampaikan situasi makro,  menurut data dari Kemenperin, KLHK, InSWA (Indonesia Solid Waste Association), dan Inaplas, sebanyak 69% kemasan plastik itu tidak terkelola secara total, 24% manageable atau dibuang ke landfill, dan 7% didaur ulang.

“Jadi PR kita itu adalah yang 69%. Sekarang bayangkan PR kita itu kalau kita tambahi lagi 770 ribu ton per tahun tanpa galon guna ulang. Jadi, kita harus bersama-sama memperjuangkan agar galon guna ulang ini tetap ada di Indonesia. Orang di negara maju pun tidak pernah menghilangkan pemakaian galon guna ulang ini,” ucap Rachmat.

Menurut dia, produk galon guna ulang AMDK ini adalah juga perwujudan komitmen industri terhadap lingkungan hidup, meskipun ongkosnya berat karena harus punya supplay chain bolak-balik. “Jadi industri yang mau masuk ke galon guna ulang ini komitmen sekali. Tapi niatnya memang lebih menyelamatkan lingkungan, dan secara ongkos kita lebih mengurangi pembelian bahan baku virgin,” tukasnya.

Meski demikian, dia juga tidak memungkiri bahwa kemasan air minum sekali pakai juga masih dibutuhkan masyarakat. Menurutnya, konsumen yang berada di luar rumah misalnya, yang tiba-tiba membutuhkan air minum dan terpaksa harus membelinya. “Jadi, memang sudah ada segmennya. Kemasan yang sekali pakai ini memang tidak bisa dihindari, tapi dia harus memenuhi kaidah 3R, yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle,” tukasnya.

Jika kemasan air minum itu tidak bisa direuse, Rachmat mengatakan industri harus beralih ke reduce. Sebagai gambaran, Rachmat menuturkan bahwa sekitar 10-15 tahun lalu, satu botol kecil kemasan air minum itu ukurannya 600 mililiter dengan berat sekitar 25 gram plastiknya. “Tapi sekarang kita sudah ada yang 14 gram. Berarti, kita menurunkan 40 persen. Jadi bukan malah menaikkan volume kemasannya,” katanya.

Untuk recycle, menurut Rachmat, diperlukan peran bersama antar industri dengan kelompok masyarakat seperti pemulung, pendaur ulang, bank sampah, dengan membuat kerjasama strategis. “Jadi, botol-botol bekas itu dikumpulkan kembali, kemudian diolah menjadi berbagai macam produk hasil daur ulangnya sehingga terjadi sirkular ekonomi,” ucapnya.

Imam Pituduh menyampaikan dalam hidup ini banyak aspek yang harus dijaga. Pertama, bagaimana menjaga kesehatan. Kedua, harus menjaga lingkungan. Ketiga, juga harus menjaga ekonomi supaya bisa tumbuh, berkembang dan hidup maju. “Nah, tiga hal ini menjadi hal yang utama dalam kehidupan kita yang perlu kita kaji dan telisik secara bersama.  Karena, manusia diciptakan di muka bumi ini tugaskan jelas, yaitu untuk memelihara alam semesta,” ujarnya.

Dia mengatakan sampah plastik merupakan polusi  yang luar biasa bagi lingkungan. “Bayangkan kalau stiap hari sampah plastik itu menggunung, hal ini akan mejadi permasalahan besar dalam kehidupan kita. Apalagi kalau sampah plastik itu tidak bisa kita musnahkan dalam waktu sekejab,” katanya. (*)