Jakarta, KanalNews.co – Tenggat waktu penyesuaian PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan berakhir pada April 2021 mendatang. Disebutkan, bagi setiap orang yang melanggar peraturan itu akan dikenakan sanksi administratif berupa penghentian sementara kegiatan, produksi, dan/atau peredaran, serta penarikan pangan dari peredaran oleh produsen dan/atau pencabutan izin.

“Peraturan itu harus ditegakkan dengan benar. Karena sekalinya kita memberi kelonggaran ke salah satu produsen Kental Manis yang melanggar, itu akan diikuti sama produsen yang lain. Kita otomatis juga akan jalan di tempat dan tidak ada perubahan untuk menghentikan kecurangan-kecurangan yang telah mereka lakukan selama ini.

Jadi BPOM dalam hal ini harus bersikap tegas dalam pengenaan sanksi itu. Tidak bisa main-main karena ini menyangkut kesehatan bayi dan anak-anak kita,” ujar Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, Erna Yulia Soefihara,

Memang, kata Erna, dampak terhadap kesehatan yang diakibatkan terhadap bayi dan anak-anak yang mengkonsumsi Kental Manis sebagai minuman tunggal itu tidak langsung menyebabkan gizi buruk saat itu. “Tapi beberapa tahun ke depannya, itu bisa merusak masa depan generasi kita,” tuturnya.

Seperti diketahui, Kental Manis memberikan dampak buruk bagi balita, seperti stunting, obesitas, perkembangan dan pertumbuhan otak serta sarafnya terganggu, hingga tingkat kecerdasannya sangat rendah. Hal itu terjadi karena Kental Manis dibuat dengan melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, Kental Manis juga diberikan added sugar (gula tambahan). Hal ini menyebabkan Kental Manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi.

Dalam tenggat waktu dua bulan berakhirnya penyesuaian terhadap PerBPOM No 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan oleh produsen, Erna menyarankan agar BPOM harus menggandeng badan lain terutama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang memiliki legalitas untuk mengawasi iklan-iklan Kental Manis ini di televisi.

“Karena televisi itu efektif sekali untuk mempengaruhi masyarakat. Pengawasan itu penting supaya produsen itu tidak semena-mena mempengaruhi masyarakat lewat iklan-ilkan mereka yang terkadang tidak sesuai sesuai peruntukannya itu. Apalagi para produsen Kental Manis itu juga sudah membuat iklan-iklan terselubung melalui tayangan sinetron yang ada di televisi ,” tukasnya.

Seperti diketahui, puluhan tahun masyarakat mendapat informasi yang salah mengenai Kental Manis. Mulai dari iklan komersil yang ditayangkan di televisi, radio, koran, media sosial dan sebagainya. Semuanya menggambarkan seolah Kental Manis adalah minuman pelengkap gizi. Disajikan dalam bentuk minuman tunggal.

Mirisnya, bahkan tak sedikit yang menggunakannya sebagai pengganti ASI.
Namun belakangan kental manis banyak diperbincangkan bahkan menjadi kontroversi. Pasalnya BPOM secara resmi menerbitkan PerBPOM no 31 tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Yang mana peraturan tersebut melarang visualisasi Kental Manis disetarakan dengan pelengkap gizi layaknya produk susu pertumbuhan yang lain. Memvisualisasikan kental manis yang diseduh dan disajikan sebagai minuman juga termasuk hal yang dilarang.

Peraturan itu mewajibkan produsen Kental Manis untuk mencantumkan tulisan “Tidak untuk menggantikan ASI, tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan, dan tidak untuk menjadi satu-satunya sumber asupan gizi” dengan teks warna merah pada kemasannya.

Selain itu, tidak boleh memvisualkan atau menggambarkan Kental Manis dalam bentuk minuman dan hidangan tunggal dan sumber gizi tunggal. Yang tak kalah penting adalah, tayangan di televisi tidak boleh menampilkan anak di bawah usia 5 tahun sebagai pemeran tunggal dalam iklan komersil.

Diterbitkannya peraturan ini oleh BPOM tentu bukan tanpa alasan. Karena berdasarkan berbagai penelitian dan fakta di lapangan, Kental Manis bukanlah susu. Karena komposisi utamanya adalah gula. Yang mana, konsumsi gula berlebihan riskan menimbulkan berbagai penyakit.

Hal senada disuarakan Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa. Dia meminta BPOM harus benar-benar menegakkan sanksi kepada produsen Kental Manis pada April mendatang. Sebagai organisasi masyarakat yang peduli terhadap kesehatan bayi dan anak-anak, kata Chairunnisa, Aisyiyah akan terus memantaunya di lapangan.

Dia menegaskan ke depan BPOM harus betul-betul harus memonitor implementasi PerBPOM No 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, khususnya yang berkaitan dengan Kenal Manis di lapangan. “Jadi bukan hanya sekedar tertulis tapi harus betul-betul dipantau di lapangan seperti apa,” ucapnya.

Penelitian terbaru yang dilakukan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU terhadap 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0 – 59 bulan atau 5 tahun tentang pola konsumsi dan persepsi susu Kental Manis di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, dan Maluku menemukan 28,96% dari total responden mengatakan Kental Manis adalah susu pertumbuhan. Sebanyak 16,97% ibu yang menjadi responden mengaku memberikan Kental Manis untuk anak setiap hari.

Penelitian hasil survei menemukan sumber kesalahan persepsi, yaitu sebanyak 48% ibu mengakui mengetahui Kental Manis sebagai minuman untuk anak adalah dari media, baik TV, majalah/ koran dan sosial media. Sebanyak 16,5% responden mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan.

Temuan menarik lainnya adalah bahwa kategori usia yang paling banyak mengkonsumsi Kental Manis ini adalah usia 3 – 4 tahun sebanyak 26,1%, lalu 2 – 3 tahun 23,9%. Sementara anak yang mengkonsumsi Kental Manis sebagai minuman sehari-hari, usia 1 – 2 tahun sebanyak 9,5%, 4-5 tahun 15,8% dan 6,9% anak usia 5 tahun. Dilihat dari kecukupan gizi, 13,4% anak yang mengkonsumsi Kental Manis mengalami gizi buruk, 26,7% berada pada kategori gizi kurang, dan 35,2% adalah anak dengan gizi lebih.