KANALNEWS.co – Jakarta, Pada malam puncak acara anugerah Srikandi Award 2012 ‘Cinta 9 Bidan’ yang diadakan oleh Sarihusada dengan menggandeng Ikatan Bidan Indonesi (IBI) di Balai Kartini Jakarta, Selasa malam (18/12/2012) terpilihlah bidan-bidan terbaik yang menurut kriteria juri program pos bhakti bidan telah relevan serta berhasil guna saat diterapkan di daerah bidan masing-masing.

Dewan juri yang terdiri dari, Ketua dr. Kartono Mohamad (Mantan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) perwakilan Kementerian Kesehatan RI Dr. H. Abidinsyah Siregar, DHSM, M.Kes, Ketua Umum IBI Dr. Harni Koesno, MKM, Senior Editor Harian Kompas Ninuk Mardiana, Asisten Utusan Khusus Presiden untuk Millennium Development Goals (MDGs), Bidang Percepatan MDGs Dalam Negeri dan Sinergi Komunitas Dian Saminarsih, dan Staf Ahli Menteri Pemberdayaan Perempuan RI Dr. Pinky Saptandari M.A.

Para pemenang dalam tiga kategori, yaitu Inisiatif Pemberdayaan Ekonomi dan Pangan yang dimenangkan oleh Bidan Sunarti dari Desa Kokap, Kulonprogo, D.I Yogyakarta, Inisiatif Peningkatan Kesehatan Anak yang dimenangkan oleh Bidan Rahmi dari Muna, Sulawesi Tenggara, dan Inisiatif Peningkatan Kesehatan Ibu yang dimenangkan oleh Bidan Siti Kholifah dari Pacitan, Jawa Timur.

“Dari data yang diperoleh bahwa 60 persen bayi diselamatkan oleh bidan. Maka dari itu saya berharap bidan bisa berperan penting selain membuat masyarakat sehat tapi juga bisa berguna bagi masyarakat,” ujar Deputi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, drg. Ida Suselo Wulan.

Menurut Ida yang mewakili Meneg PP, dengan penghargaan untuk bidan berprestasi ini dan kedepannya akan menciptakan masyarakat yang bisa mengutamakan arus gender khususnya bidang kesehatan.

Bidan Rahmi keluar sebagai pemenang kategori Inisiatif Peningkatan Kesehatan Anak karena perjuangannya melawan budaya kurang tepat di daerahnya. Masyarakat Muna, Sulsel memiliki budaya untuk selalu memberi makan bayi, meski ia baru lahir sekalipun karena tangisan bayi dinilai sebagai indikator lapar. Maka bayi di sana sudah diberikan pisang ataupun madu di usia-usia yang seharusnya masih mendapatkan ASI eksklusif.

Rahmi yang sudah 17 tahun menjadi bidan di sana mampu mengubah budaya masyarakat dengan memberikan edukasi tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif. Upaya edukasi tidak cukup ia lakukan  kepada para ibu dan calon ibu, Ia juga memulai sosialisasinya kepada orang-orang yang berpengaruh di desanya, seperti Kepala Desa, aparat desa, tokoh masyarakat, dan para suami.

“Saya berharap dengan program yang saya lakukan dapat memberikan contoh bagi seluruh daerah yang belum menerapkan ASI ekslusif,” kata Rahmi.

Selain itu para ibu maupun suami tidak perlu khawatir ASI habis karena pemberian ASI eksklusif,

“Ibu dapat menambah asupan gizi yang baik untuk menambah ASI, seperti bubur putih ataupun kacang ijo,” tambahnya.

Menurutnya, profesi bidan yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara, selalu terdepan dalam menolong kaum ibu dan perempuan dan juga membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sayangnya perwakilan Kementerian Kesehatan yang mempunyai visi strategis ‘Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan’ tidak hadir pada malam penganugerahan.

“Seneng lah kalau perwakilan dari Kementerian Kesehatan turut memberikan hadiah kepada kami,” tandas Rahmi.

 

Penulis : Herwan Pebriansyah