KANALNEWS.Co., Riyadh – Saudara perempuan aktivis kemanusiaan Saudi Arabia, Loujain al-Hathloul mengkhawatirkan nasib saudaranya itu setelah dijatuhi hukuman awal pekan ini.

Adik Loujain, ALia yang kini tinggal di Belgia, mengkhawatirkan nasib buruk akan menimpa kakaknya apabila mengajukan banding atas hukuman yang dijatuhkan. Sebuah pengadilan Saudi, Senin (28/12) menjatuhkan hukuman penjara selama 5 tahun 8 bulan kepada perempuan aktivis Loujain al-Hathloul.

“Saya khawatir banding yang akan diajukan saudara saya justru akan memperberat hukumannya,” kata Alia. “Dia ingin dinyatakan tdiak bersalah. Ini tujuan utama dia (mengikuti pengadilan).”

Al-Hathloul dijatuhi hukuman atas tuduhan melakukan tindakan kejahatan berkaitan dengan terorisme. Namun hukuman percobaan yang dijatuhkan kepadanya membuka peluang buat pembebasan dirinya beberapa bulan ke depan.

Pembebasan al-Hathloul tahun depan akan menghindari konflik antara kerajaan Saudi dengan pemerintah baru Amerika Serikat di bawah Presiden terpilih Joe Biden yang akan dilantik Januari ini.

Pemerintah Biden tampaknya akan menetapkan pengawasan ketat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran hak asasi manusia di Kerajaan Arab Saudi dan jauh lebih keras daripada pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dari vonis 5 tahun 8 bulan yang dijatuhkan, hakim menyatakan jika Al-Hathloul berkelakuan baik, maka ia akan lebih cepat dibebaskan. “Jika hukuman 2 tahun 10 bulan yang dijatuhkan kepadanya dari hukuman yang telah dijalaninya (sejak Mei 2018), ia ada kemungkinan akan bebas dalam dua bulan,” kata adik Loujain, Lina Al-Hathloul melalui akun twitter miliknya.

Sementara sumber dari keluarga al-Hathloul menyebut Loujain berpeluang mendapatkan kebebasannya pada Maret tahun depan.

Pengamat politik menyebutkan keputusan ini dapat menyelamatkan wajah pemerintah Saudi yang selama ini mendapat kecaman dunia internasional terkait dengan penahanan pada para aktivis perlawanan.

Namun Kenneth Roth, direktur eksekutif “Human Rights Watch” mengecam hukuman tersebut dna menyebut hukuman buat al-Hathloul memalukan. Kasus hukuman buat AL-Hathloul ini telah menuai kecaman dari para aktovis politik di seluruh dunia.

Keluarga Al-Hathloul menyebut ia mengalami pelecehan seksual dna penyiksaan di dalam tahanan. Nmaun tuduhan ini dibantah oleh pengadilan ASaudi arabia.

Awal bulan ini, Menlu Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan menuyebut Al-Hathloul dicurigai memiliki hubungan dengan beberapa negara musuh Saudi namun hal ini dibantah oleh keluarga Al-Hathloul.

Bulan lalu, pengadilan terhadap Al-Hathloul dipindahkan dari pengadilan pidana di Riyadh ke Pengadilan Pidana Khusus atau nama lain dari pengadilan anti terorisme. Pengadilan ini biasanya digunakan untuk membungkam suara kritis terhadap Kerajaan dengan menggunakan isu memerangi terorisme.

Al-Hathloul bersama beberapa perempuan aktivis ditahan karena terus mengkritik kasus pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi di konsulat di Istanbul pada 2018 silam.

Ia sempat menjalani aksi mogok makan di penjara pada 26 Oktober untuk menuntut hak kunjung buat keluarganya. Namun ia mengalami tekanan yang menaksanya menghentikan aksi ini. “Ia dibangunkan penjaga setiap dua jam, siang dan malam, sebagai taktik untuik menekan dirinya,” kata saudara perempuannya. “Namun ia tak mau menyerah.”