Ilustrasi vaksin (pixabay)

 

Kanalnews.co, JAKARTA- Meski telah diberikan kepada masyarakat, sejumlah merk vaksin belum semua mengantongi sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Berikut penjelasan dari Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Seperti diketahui, Mahkamah Agung (MA) memenangkan Yayasan Konsumen Muslim Indonesia (YKMI) terkait uji materi Pasal 2 Peraturan Presiden (Perpres) RI Nomor 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19. Alhasil, pemerintah kini disebut wajib menyediakan vaksin COVID-19 halal bagi umat muslim.

Adapun vaksin yang sudah dapat sertifikat halal di Indonesia adalah Sinovac, Zifivax, Merah Putih, dan Sinopharm. Sementara yang lain belum seperti AstraZeneca, Moderna, Pfizer, dan yang lainnya.

Meski belum mendapatkan sertifikat halal, MUI tetap memperbolehkan vaksin tersebut diberikan kepada masyarakat. Keputusan ini ditetapkan MUI sejak tahun lalu.

“Ini sudah ada proses untuk fatwanya kan, dan sudah ada putusannya mubah,” kata Siti Nadia.

Pasca putusan MA, Kementerian Kesehatan juga langsung mengubah keputusannnya. Sinovac yang sudah dapat sertifikat halal MUI tapi tidak dipakai untuk booster, kini akhirnya diperbolehkan untuk digunakan jadi suntikan ketiga.

“Untuk itu masyarakat yang merasa nyaman untuk menggunakan vaksin Sinovac, kami membuka peluang vaksin tersebut untuk bisa digunakan juga sebagai vaksin booster,” kata Siti Nadia.

Soal putusan MA tersebut, apakah bisa menyebabkan terjadinya kevakuman hukum dan tidak ada lagi konsekuensi hukum atau kewajiban vaksinasi bagi masyarakat, Nadia belum bisa berkomentar.

“Kami pelajari dulu ya,” kata Nadia. (ads)