Foto: IG Akmal

Kanalnews.co, JAKARTA– Keinginan pelatih Timnas Indonesia Shin Tae-yong menaturalisasi empat pemain yang merumput di luar negeri menimbulkan spekulasi. PSSI diharapkan lebih bijak dan mempertimbangkan rencana tersebut.

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan mengungkapkan bahwa Shin Tae-yong meminta pihaknya menaturalisasi empat pemain. Mereka adalah Jordi Amat, Sandy Walsh, Mees Hilgers dan Kevin Diks.

Namun PSSI belum mengiyakan keinginan Shin Tae-yong tersebut. PSSI disebutnya harus menelusuri lebih dulu garis keturunan dari keempat pemain itu.

Pengamat Sepakbola Akmal Marhali menilai naturalisasi bukan solusi untuk membentuk Timnas yang kuat. Ia pun mempertanyakan motif apa yang membuat Shin Tae-yong menginginkan pemain tersebut dinaturalisasi mengingat skuat lokal yang ada saat ini sebenarnya cukup bagus.

“Tugas pelatih timnas itu adalah menyusun program untuk membangun timnas yang kuat dan berprestasi dari SDM yang dimiliki yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Dari Miagas sampai Pulau Rote,” ujar Akmal kepada Kanalnews.co, Selasa (16/11/2021).

“Timnas adalah produk terbaik dari hasil pembinaan dan kompetisi yang kemudian dikembangkan pelatih timnas. Jika pelatih timnas yang baru ke Indonesia tiba-tiba minta pemain naturalisasi, saya curiga ada agency di belakangnya,” katanya.

“Faktanya sudah 100 lebih pesepakbola yang dinaturalusasi dan tidak ada hasilnya kecuali mengambil jatah pemain lokal di kompetisi,” tegasnya.

Akmal menilai cara membentuk timnas yang kuat adalah bukan dengan jalan naturalisasi. PSSI lebih baik fokus untuk melakukan pembinaan dan kompetisi yang sudah lama seharusnya dijalankan.

“Jika pembinaan bagus dan kompetisi sehat, kita akan punya timnas yang kuat. Fokus saja di dua hal tersebut: pembinaan dan kompetisi yang sehat
Naturalisasi itu delusional,” dia menambahkan.

Oleh karena itu, ia mengimbau kepada Menpora Zainudin Amali untuk mengawasi rencana menambah pemain naturalisasi tersebut. Sebab, jika itu dilakukan maka PSSI telah menghancurkan potensi pemain-pemain lokal.

“Percayalah sepakbola kita punya potensi asalkan dibina dengan benar. Tugas Menpora, PSSI, dan juga klub adalah membina bukan “membeli”. Naturalisasi bukan solusi terkait mandeknya prestasi timnas. Terkesan delusional. Naturalisasi memberikan kemudahan kepada orang asing untuk mendapatkan pekerjaaan. Mereka sejatinya tidak terpakai di timnas negaranya,” katanya.

“Investasi terbaik adalah membina anak bangsa sendiri. Indonesia negara besar. Merdeka lewat kekuatan sendiri. Naturalisasi membunuh potensi anak negeri dan bukti ketidakpercayaan diri. Tugas pengurus PSSI membina pemain produk dalam negeri untuk berprestasi. Sekali lagi membina, bukan membeli,” cetusnya.

Program naturalisasi yang dilakukan PSSI sejatinya sudah lama dilakukan. Ada sejumlah nama yang akhirnya dinaturalisasi, sebut saja Sergio van Dijk, Raphael Maitomo, Ruben Wuarbanaran, Tonny Cussel, Stefano Lilipaly, dan masih banyak lagi.

Namun faktanya, pemain-pemain tersebut tak membawa dampak signifikan untuk Timnas. Indonesia sebenarnya memiliki banyak potensi pemain yang bisa dikembangkan dengan baik.

“Kalau ditarik lagi ke belakang kita juara SEA Games 1987 dan 1991 tanpa pemain naturalisasi dan pemain keturunan, juga ketika kita mampu menahan uni soviet di olimpiade melbourne 1976. Artinya, kita punya potensi. Jalan instan tidak akan memberikan prestasi apa-apa kecuali menggambarkan keputusasaan,” ungkap pria yang menjabat sebagai Koordinator SOS (Save Our Soccer).

“Jangan sampai permintaan Shin tae-yong nantinya akan jadi budaya pelatih timnas ke depannya. Program mereka menaturalisasi pemain. Alih-alih membangun timnas yang kuat, malah jadi agen naturalisasi. Yakinlah timnas yang kuat, lahir dari kompetisi dan federasi yang sehat. Bukan dari naruralisasi,” tegasnya. (ads)