Foto NasDem

 

Kanalnews.co, JAKARTA – Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya, secara keras membantah kabar “merger” dengan Partai Gerindra yang mencuat dari laporan Tempo. Ia menilai istilah itu bukan sekadar keliru, tapi mencerminkan kemiskinan pemahaman politik.

Menurut Willy, yang sebenarnya digagas oleh Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, bukanlah penggabungan partai, melainkan pembentukan “political block” sebuah aliansi strategis yang menyatukan visi besar tanpa melebur identitas.

“Ini bukan merger. Ini blok politik. Yang bilang merger itu jelas miskin literatur politik,” tegas Willy Senin (13/4/2026).

Ia bahkan menyebut penggunaan istilah merger sebagai upaya mendiskreditkan dua partai besar tersebut. Bagi Willy, kesalahan istilah ini bukan hal sepele, melainkan bukti dangkalnya pemahaman tentang sistem politik Indonesia.

Lebih jauh, ia mengkritik cara berpikir yang menyamakan konsep koalisi dengan realitas pemerintahan Indonesia. Menurutnya, koalisi hanya relevan saat proses pencalonan, bukan dalam sistem presidensial seperti yang dianut Indonesia.

“Baca dulu, pahami dulu! Koalisi itu konteksnya parlementer. Ini beda. Yang ditawarkan Pak Surya adalah political block, bukan merger,” ujarnya.

Willy juga menegaskan political block bukan kerja sama transaksional, melainkan mesin politik solid yang menyatukan arah perjuangan dari pusat hingga akar rumput.

Ia lantas mengungkit sejarah sebagai tamparan balik bagi para pengkritik. Mulai dari fusi partai era Orde Baru hingga konsep Front Nasional ala Soekarno, hingga cikal bakal Golkar, semua disebutnya sebagai contoh nyata political block di Indonesia.

“Sejarah kita jelas. Dari Nasakom sampai Sekber Golkar, itu semua political block. Jadi jangan sembarangan menyederhanakan dan memelintir,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Willy kembali menyindir keras pihak yang menggulirkan isu merger.

“Ini akibat orang tidak membaca. Tidak paham cara kerja politik, tapi berani menafsirkan seenaknya,” tutupnya. (ads)