Kanalnews.co, JAKARTA – Jakarta dan wilayah sekitarnya belakangan terasa seperti “dipanggang” matahari. Suhu udara yang meningkat tajam membuat banyak warga mengeluhkan teriknya siang hari.
Ternyata, kondisi ini bukan sekadar efek musim kemarau, melainkan dipicu oleh kombinasi faktor alam yang sedang terjadi bersamaan.
Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, mengungkapkan panas menyengat beberapa hari terakhir dipicu oleh kuatnya penyinaran matahari yang langsung menghantam permukaan bumi tanpa banyak penghalang awan. Langit yang cenderung cerah pada siang hari membuat radiasi matahari terasa jauh lebih intens dibanding biasanya.
“Kondisi udara yang terasa lebih panas belakangan ini umumnya dipengaruhi oleh penyinaran matahari yang cukup kuat, tutupan awan pada siang hari yang tidak merata,” kata Ida.
Tak hanya itu, fenomena peralihan musim juga ikut memperparah kondisi. Pada masa transisi ini, cuaca pagi hingga siang hari cenderung terasa sangat terik. Namun, situasi bisa berubah drastis saat sore atau malam, karena masih ada potensi hujan lokal yang turun secara tiba-tiba di sejumlah wilayah.
“Karakteristik masa peralihan musim membuat cuaca pagi hingga siang hari terasa lebih terik, sementara sore atau malam masih berpotensi terjadi hujan lokal,” ujarnya.
BMKG juga memperingatkan adanya kemungkinan musim kemarau 2026 datang lebih cepat di beberapa daerah Indonesia. Musim kering diprediksi mulai muncul sejak April, diawali dari wilayah Nusa Tenggara sebelum meluas secara bertahap ke berbagai daerah lain. Dampaknya sudah mulai terasa di Pulau Jawa, termasuk Jakarta, dengan pola cuaca yang lebih sering cerah hingga berawan tebal.
“Musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia,” tambah Ida.
Meski demikian, Sekretaris Utama BMKG Guswanto menegaskan panas ekstrem di Jakarta bukan semata-mata karena kemarau datang lebih awal. Ia menyebut faktor atmosfer berperan besar, terutama setelah hujan lebat yang sempat mengguyur. Usai hujan, langit menjadi lebih bersih dari awan, sehingga sinar matahari menyorot langsung ke daratan dan membuat suhu terasa melonjak.
“Cuaca panas di Jakarta bukan hanya karena kemarau lebih awal, tetapi dipengaruhi kombinasi faktor atmosfer setelah hujan lebat yang membuat langit cerah,” kata Guswanto.
Selain radiasi matahari yang kuat, pergerakan semu matahari juga menjadi pemicu utama. Saat ini, posisi matahari sedang bergerak ke arah utara dari garis khatulistiwa.
Akibatnya, wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, termasuk Jakarta, menerima paparan sinar yang lebih tegak pada siang hari. Kondisi inilah yang membuat cuaca terasa semakin terik meski musim kemarau belum sepenuhnya tiba.
“Gerak semu matahari yang bergerak ke utara membuat wilayah seperti Jakarta menerima paparan sinar lebih tegak di siang hari,” jelasnya.
Fenomena gerak semu matahari sendiri terjadi sepanjang tahun, dari 23,5 derajat lintang selatan hingga 23,5 derajat lintang utara. Perubahan lintasan ini memengaruhi intensitas radiasi matahari, panjang siang dan malam, hingga munculnya fenomena hari tanpa bayangan.
Kombinasi berbagai faktor tersebut kini membuat ibu kota dan sekitarnya harus bersiap menghadapi hari-hari yang lebih panas dari biasanya. (ads)




































