Foto ist

 

Kanalnews.co, JEDDAH- Evaluasi penyelenggaraan ibadah haji 2026 tak hanya menyoroti aspek pelayanan, tetapi juga mengungkap persoalan yang dinilai berpotensi menjadi tantangan besar pada musim haji mendatang.

Akademisi yang tergabung dalam Amirul Hajj menyoroti tingginya potensi sampah plastik selama puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMUZNA), sekaligus mendesak peningkatan fasilitas bagi jamaah perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.

Sorotan tersebut mengemuka dalam rapat evaluasi akhir (exit meeting) Amirul Hajj bersama berbagai pemangku kepentingan penyelenggaraan haji Indonesia di Arab Saudi. Sejumlah rekomendasi strategis disampaikan sebagai bahan perbaikan untuk penyelenggaraan haji tahun berikutnya.

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ilfi Nur Diana, mengingatkan jumlah jamaah perempuan yang lebih banyak dibanding laki-laki harus menjadi perhatian serius dalam penyediaan fasilitas pendukung, terutama toilet di kawasan ARMUZNA yang menjadi titik konsentrasi jutaan jamaah saat puncak ibadah.

Selain itu, ia menilai persoalan lingkungan belum mendapat perhatian maksimal. Menurutnya, penggunaan tumbler yang telah dibagikan kepada jamaah perlu didukung dengan penyediaan dispenser air minum yang memadai agar ketergantungan terhadap botol plastik sekali pakai dapat ditekan.

“Jika setiap jamaah menghabiskan banyak botol air kemasan setiap hari, jumlah sampah yang dihasilkan selama fase ARMUZNA bisa mencapai angka yang sangat besar. Ini harus menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan haji ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Indonesia Prof. Heri Hermansyah menyoroti sejumlah persoalan teknis yang masih perlu dibenahi. Salah satunya terkait budaya antre saat menggunakan transportasi di kawasan ARMUZNA yang dinilai perlu diperkuat dengan tetap mengedepankan prioritas bagi jamaah lanjut usia.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengantisipasi keterlambatan armada bus yang kerap menjadi keluhan jamaah saat mobilisasi menuju lokasi puncak ibadah. Menurutnya, layanan bus shalawat pasca-ARMUZNA juga perlu dioptimalkan karena menjadi sarana penting bagi jamaah yang hendak menunaikan tawaf ifadah maupun tawaf wada’.

“Sering kali kondisi di lapangan berbeda dengan teori dan prosedur yang telah disiapkan. Karena itu kemampuan problem solving menjadi kompetensi penting yang harus dimiliki petugas,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Ilfi Nur Diana yang juga bertugas sebagai Sekretaris Amirul Hajj menegaskan keberhasilan penyelenggaraan haji ke depan dapat diukur melalui semakin baiknya tata kelola layanan, menurunnya temuan audit, berkurangnya keluhan jamaah, serta meningkatnya kualitas pelayanan bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas.

Menurutnya, evaluasi yang dilakukan setiap tahun harus menjadi bagian dari proses perbaikan berkelanjutan agar penyelenggaraan ibadah haji Indonesia semakin profesional, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah

Berbagai catatan tersebut menjadi sinyal meski penyelenggaraan haji 2026 berjalan relatif baik, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Akademisi Amirul Hajj berharap evaluasi ini menjadi pijakan untuk menghadirkan layanan yang lebih ramah bagi perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas, sekaligus mendorong pelaksanaan haji yang lebih berkelanjutan dan bebas dari persoalan lingkungan. (pht)