Foto tangkapan layar

 

Kanalnews.co, JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto meluapkan kekesalannya atas tudingan yang menyebut dirinya kerap plesiran ke luar negeri dengan fasilitas negara. Di depan para menteri dan elite pemerintahan, ia menegaskan tak ada satu pun perjalanan yang ia lakukan untuk bersantai.

Dalam pengarahan di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (8/4), Prabowo membalik narasi tersebut. Ia menyebut mobilitasnya ke berbagai negara justru bagian dari “operasi” penting negara mengamankan kebutuhan energi di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Dibilang saya jalan-jalan ke luar negeri… untuk amankan minyak ya saya harus ke mana-mana,” ujarnya tegas di hadapan jajaran Kabinet dan pimpinan BUMN.

Pernyataan ini muncul setelah sorotan publik terhadap kunjungannya ke Jepang dan Korea Selatan. Namun Prabowo memastikan, lawatan itu bukan seremonial belaka. Ia mengklaim misi diplomasi yang dibawanya membuahkan hasil konkret bagi kepentingan Indonesia.

Bahkan, tanpa basa-basi, ia mengisyaratkan agenda perjalanan berikutnya sudah di depan mata.

“Saya akan berangkat lagi ke sebuah negara,” ucapnya.

Di sisi lain, Prabowo membuka sisi lain dari jabatan presiden yang jarang disorot. Ia menyebut kursi RI-1 jauh dari kata nyaman, bahkan membuatnya kehilangan waktu istirahat sepenuhnya.

“Tidak ada hari libur,” katanya.

Taklimat tersebut juga berubah menjadi panggung refleksi atas derasnya kritik publik. Prabowo memilih merespons dengan gaya santai namun tajam, menyerap kritik sebagai alarm, bukan ancaman.

“Kalau dibilang bodoh, ya saya harus waspada. Artinya saya harus cari orang pintar bantu saya,” ujarnya, diselingi candaan khas.

Ia juga menyinggung label “keras kepala” yang kerap diarahkan kepadanya. Menurut Prabowo, dalam kondisi tertentu, sikap keras justru dibutuhkan, sebuah sindiran halus yang ia kaitkan dengan dinamika global dan keteguhan bangsa-bangsa dalam mempertahankan kedaulatannya.

Lebih jauh, ia menarik benang ke sejarah Indonesia. Baginya, sikap pantang menyerah para pendiri bangsa adalah bukti bahwa “keras kepala” bisa menjadi kekuatan, bukan kelemahan.

“Merah Putih harga mati,” tegasnya.

Menutup arahannya, Prabowo mengingatkan seluruh jajarannya untuk tidak reaktif menghadapi kritik. Ia menekankan pentingnya tetap tenang, namun teguh menjaga prinsip negara hukum dan konstitusi. (sis)