
Kanalnews.co, JAKARTA – Pemerintah Indonesia mulai memainkan langkah senyap namun strategis dengan membuka peluang mendatangkan minyak mentah dari Brunei Darussalam. Opsi ini muncul di tengah upaya serius memperkuat ketahanan energi nasional agar tidak mudah terguncang gejolak pasar global.
Brunei dinilai punya potensi besar karena mampu memproduksi sekitar 100.000 hingga 110.000 barel minyak per hari. Angka tersebut dianggap cukup menjanjikan untuk menjadi salah satu penyangga tambahan kebutuhan energi Indonesia di masa mendatang.
Rencana penjajakan kerja sama ini mencuat setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bertemu pejabat energi Brunei di forum Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo, Jepang.
“Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan pasokan energi nasional tetap aman,” ujar Bahlil.
Indonesia memandang impor dari Brunei sebagai langkah taktis untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus memperluas jaringan kemitraan energi di kawasan. Pemerintah ingin memastikan kebutuhan energi domestik tetap aman tanpa terlalu bergantung pada satu sumber saja.
Di sisi lain, Brunei justru tertarik menengok kemajuan Indonesia dalam membangun sistem energi yang lebih beragam. Negara kaya migas tersebut mulai serius mengkaji strategi diversifikasi pembangkit listrik, khususnya yang berbasis energi baru dan terbarukan.
“Ini momentum emas kolaborasi kawasan, Brunei melihat Indonesia lebih maju dan terstruktur dalam pengembangan pembangkit dari berbagai sumber energi,” kata Bahlil.
Ambisi Brunei pun tidak main-main. Mereka menargetkan lonjakan kapasitas listrik hingga lima kali lipat dari kondisi saat ini. Tambahan sekitar 4 gigawatt tengah disiapkan sebagai bagian dari upaya besar mengurangi dominasi gas yang selama ini hampir sepenuhnya menopang pembangkit listrik di negara tersebut.
Ketertarikan Brunei juga tertuju pada teknologi Enhanced Oil Recovery yang telah digunakan perusahaan migas nasional Indonesia untuk menghidupkan kembali sumur-sumur tua. Teknologi ini dinilai mampu menjadi kunci meningkatkan produksi minyak di tengah tren penurunan output lapangan migas konvensional.
“Kami siap memfasilitasi kerja sama teknis dan berbagi pengalaman terkait penerapan teknologi tersebut,” tegas Bahlil.
Dari pihak Brunei, minat terhadap teknologi ini juga disampaikan secara terbuka. “Kami sudah menggunakan metode water flooding dan percaya bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan teknologi EOR guna meningkatkan produksi minyak,” ungkap Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi.
Tak hanya fokus pada minyak dan listrik, Indonesia juga menawarkan peluang investasi infrastruktur energi melalui skema pengembangan koridor ekonomi nasional. Brunei didorong ikut berperan dalam pembangunan jaringan ketenagalistrikan di wilayah terpencil yang memiliki potensi sumber daya besar tetapi masih kekurangan dukungan energi.
Kerja sama tersebut sekaligus dirancang untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di sektor energi. Program pelatihan teknis hingga peningkatan kapasitas auditor energi terbarukan menjadi bagian dari agenda besar yang disiapkan kedua negara. (ads)



































