KANALNEWS.co – Jakarta, Pakar ekonomi kreatif dari Inggris yang dijuluki Bapak Ekonomi Kreatif Dunia John Howkins mengatakan, tidak perlu modal besar untuk menjalankan bisnis ekonomi kreatif, hal itu telah dibuktikan banyak kreator di dunia yang sukses berkat karya kreativitasnya.
“Ekonomi kreatif tidak memerlukan modal besar. Banyak perusahaan menggunakan dunia maya untuk memasarkan jasa dan produk mereka,” kata Howkins di Jakarta, Jumat (23/11/12) dalam acara Panglaykim Memorial Dialog 2012 yang merupakan rangkaian acara Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI).
Menurut dia, melalui jaringan Facebook ada satu perusahaan game memulai usahanya dari nol atau tanpa modal yang besar, hanya dalam dua tahun asset perusahaan itu telah menjadi jutaan dolar.
Penulis buku The Creative Economy ini dihadirkan untuk membagi pengalamannya kepada pelaku kreatif Indonesia mengatakan, berbagai hal yang ditampilkan selama PPKI adalah bukti bahwa Pemerintah Indonesia sudah menyadari pentingnya mengembangkan ekonomi kreatif.
“Kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif terbuka lebar. Yang paling penting adalah mempunyai ide dan keahlian untuk memberikan nilai tambah,” ujarnya.
Howkins menggarisbawahi, upaya mengembangkan kreativitas umumnya tidak memerlukan modal yang besar, dan ia menilai Indonesia telah mampu menyambut positif era ekonomi kreatif
“Yang terpenting adalah memahami proses rantai nilai (value chain). Dengan memahami rantai nilai, suatu ide kreatif bisa disampaikan ke calon investor,” katanya.
Umumnya, menurut dia, bila ide tersebut akan direalisasikan tidak bisa langsung dijual ke pasar tapi harus difasilitasi oleh pihak lain yang akan akan membantu mengenalkan dan memasarkan produk kreatif tersebut.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Mari Elka Pangestu, menyatakan kesepakatannya, bahwa ekonomi kreatif adalah sebuah proses memberikan nilai tambah terhadap sesuatu yang sudah ada dan menjadikannya berkesinambungan.
“Contonhya kain songket Palembang yang sekarang ini banyak dipadupadankan dengan batik, cara ini akan memopulerkan dan melestarikan keberadaan songket dan batik,” katanya.
Howkins membagi pengalamannya saat di Afrika di mana daerah itu yang mengembangkan produk dengan teknik sederhana.
“Untuk memberikan nilai tambah dilakukan pengembangan dari aspek desain, marketing, dan distribusi. Dengan cara ini keuntungan penjualan produk tersebut akan semakin meningkat,” tandas Howkins.
Penulis : Lidya Dara
Editor : Herwan Pebriansyah








































