Kanalnews.co, TUBAN – Decit suara burung pipit yang lembut terdengan riuh dan ramai di sebuah rumah yang berlokasi disisi jalan, Dusun Nggirsapi, RT 01 RW 02, Desa Sugihwaras, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Rupanya, rumah yang menghadap arah timur tersebut menjadi lokasi berternak burung pipit, emprit atau yang umum dikenal sebagai burung Vinch oleh para penggemarnya.

Disalah satu sudut ruangan, seorang pemuda tengah sibuk memeriksa kandang, sebagai tempat beternak burung dan mempersiapkan pakan tambahan untuk nutrisi bagi burung yang di tangkarkanya itu.

Ia adalah Imam Ahmadi, pemuda asal Desa Sugihwaras yang menjadi pembudidaya burung emprit sejak kurang lebih tiga tahun terakhir. Menurutnya pamor love bird, si burung cinta yang pernah merajai pasar burung sekitaran 2017 hingga 2018 silam, membuat Imam, yang sebelumnya pernah ikut merasakan pundi-pundi rupiah dari berternak love bird, banting stir menjadi peternak Burung emprit atau Vinch, karena tidak sanggup meneruskan usaha berternak love bird lagi.

“Sejak 2018 saya mencoba peruntungan dengan menangkarkan burung ini dari dua ekor yang saya beli dari seorang penangkar di Malang, saya rawat bersamaan dengan Love bird saat itu, dan sekarang Lovebirdnya berhenti,” kata Imam.

Awalnya, Imam hanya coba-coba, berbekal pengalaman ternak Love bird, dua ekor burung vinch jepang yang menjadi Indukanpun berubah menjdi beberapa pasang, dan terus berkembang hingga saat ini dengan jumlah indukan kurang lebih 30 pasang, termasuk beberapa pasang merupakan jenis vinch Gold Amandine yang warnanya cukup indah.

“Kurang lebih ada 30 pasang termasuk vinch Golden amandine,” ucap Imam saat ditemui awak media.

Imam Ahmadi , Permuda asal desa Sugihwaras kecamatan Jenu yang sukses ternak burung emprit.

Ada beberapa jenis Vinch yang Imam budidaya, burung yang dikenal sebagai jenis burung hama ini rupanya memiliki pesona tersendiri bagi para pecintanya. Jika jenis burung lain memiliki daya Tarik dari suara kicauanya, vinch justru mengandalkan warna bulu yang indah dan bentuk mungilnya sebagai daya Tarik.“

Bentuknya mungil, warna warnanya indah mas, Vinch ini masuk dalam kategori burung hias, memang suaranya monoton, karena yang dijual adalah paduan warna dan ukuranya yang kecil,” jelas Imam.

Untuk harga menurut pria Lulusan SMK pelayaran ini, masih cukup bagus dan stabil, yakni antara Rp100.000 hingga Rp125.000 per ekor, dan untuk emprit jepang, Rp500.000 hingga Rp600.000 per ekor untuk jenis Gold Amandine. Untuk pemasaranya sendiri selain menyasar para pecinta burung di Tuban, Imam juga kerap mengirim burung hasil penangkaranya hingga Malang, Batu, Gresik dan Surabaya.

“Lumayan omsetnya, biasanya saya kirim ke Malang sampai dua kali, dengan jumlah 40 ekor dalam satu kali pengiriman, kadang juga pengepulnya yang datang ke rumah,” tutur pria 33 tahun ini.

Untuk Perawatan, lanjut Imam tidak terlalu sulit, apalagi burung jenis finch, utamanya Vinch Jepang memiliki ketahanan fisik yang baik dan tidak mudah stres. “Kuat srabutan dan tidak mudah stres, prosukainya juga relatif singkat,” Pungkas Imam ini. (Hakim/Met)