KANALNEWS.co, Jakarta – Untuk meningkatkan kerja sama antara Kementerian ESDM, dalam hal ini Ditjen Migas dengan Bank Dunia terkait pembangunan infrastruktur gas dan pengembangan hulu migas, diselenggarakan Migas-World Bank Joint Working Group on Gas Infrastructure and Upstream Development di Ruang Strategis, Gedung Migas, Jakarta, Senin (29/5).

Pembukaan acara ini dihadiri oleh Kepala Sub Direktorat Kerja Sama Migas, Ayende dan perwakilan Bank Dunia yang dipimpin oleh Bryan ChristopherLand. Acara ini dihadiri pula oleh stakeholder migas.

Selain Joint Working Group (JWG), dalam rangkaian acara ini dilakukan Forum Group Discussion (FGD) on Gas Infrastructure and Upstream Development. Acara berlangsung mulai 29 Mei hingga 8 Juni 2017.

JWB dan FGD ini merupakan kelanjutan dari kerja sama studi tahun 2016 terkait gas infrastructure optimization and investment framework pada tahun 2016 yang memberikan beberapa rekomendasi kepada Ditjen Migas untuk pengembangan gas infrastructure masterplan. Hasil JWG akan menjadi masukan terhadap kebijakan yang ada saat ini.

Hal-hal yang dibahas dalam rangkaian pertemuan ini, antara lain pengembangan infrastruktur gas yang didasarkan pada Neraca Gas, pengembangan hulu migas dan tantangannya, tarif dasar termasuk tarif dasar pipa serta pembahasan studi kasus.

Dalam paparannya pada pembukaan acara, Bryan menyakan, Ditjen Migas memiliki kebutuhan untuk melaksanakan perencanaan yang terkoordinasi, namun tetap independen dari stakeholder lainnya.

Lebih lanjut, Bryan memberikan rekomendasi untuk optimalisasi dan optimasi pembangunan infrastruktur gas serta agar dilakukan revisi struktur tarif untuk meningkatkan daya saing dan memberikan insentif serta efisiensi. Disarankan pula untuk membangun FSRU berkapasitas besar.

Selain menyampaikan paparan atau masukan, Bank Dunia juga memberikan pelatihan dan saran teknis kepada Pemerintah mengenai perencanaan, perancangan, konstruksi, ekonomi dan sebagainya. mulkani