KANALNEWS.Co., Kudus – Berpulangnya legenda bulu tangkis nasional, Johan Wahyudi pada Jumat (15/11/2019) lalu menyisakan misteri
tentang apa yang terjadi pada pasangan legendarisnya bersama Tjun Tjun ini pada akhir karir mereka.

Yang menjadi persoalan adalah pada final ganda putera All England 1981. Ketika itu Johan/Tjun Tjun merupakan juara bertahan dengan 6 gelar juara. Sekali lagi mereka akan merebut gelar juara ketujuh dan masuk Guinness Record sebagai pemegang gelar juara terbanyak.

Sebelum ini mereka berbagi gelar tersebut bersama ganda Denmark, Jorgen Hammergaard Hansen/Finn Kobbero yang meraih gelar juara sebanyak enam kali antara 1955-1964.

Lawan Tjun Tjun/Johan di final adalah sesama pasangan Indonesia, Heryanto/Kartono Hariatmanto. Sebelum final tersiar kabar bahwa pasangan Heryanto/Kartono akan mengalah untuk memberi kesempatan senior mereka mencatat rekor dunia.

Tapi yang terjadi pada final di luar dugaan banyak orang. Kartono/Heryanto memang mudah dalam dua gim 15-9, 15-8. The mighty Tjun Tjun/Johan tampak kebingungan bermain di lapangan. Kebingungan inilah yang kemudian diinterpretasikan media mau pun publik bulu tangkis bahwa pasangan ini bingung karena kejadi di luar lapangan berbeda dengan skenario.

Bahkan disebut skenario yang sudah direncanakan manajer tim bahwa Kartono/Heryanto akan mengalah di final dan mendapatkan kompensasi materi dari kekalahan tersebut. Bahkan disebut Tjun Tjun/Johan sangat kecewa dan sejak itu pasngan yang pernah enam kali juara All England, satu kali juara dunia dan tiga kali membawa Piala Thomas (1973, 1976, 1979) semakin terpuruk dan mengundurkan diri pada 1982.

Kartono Hariatmanto yang menjadi pelaku sejarah tersebut mengakui adanya usaha “mengatur” hasil pertandingan tersebut. Sebelum final mereka diminta mengalah untuk usaha mencetak rekor dunia buat Tjun Tjun/Johan. Mereka memang dijanjikan kompensasi materi yang cukup besar untuk itu. “Tapi manajer beralasan PBSI tidak punya dan,  jadi kompensasi akan diberikan oleh Tjun Tjun/Johan,” kata Kartono saat menjadi pemandu bakat pada Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis di Kudus, Selasa (19/11/2019).

“Waktu itu kami dijanjikan uang sebesar Rp 10 juta dari Tjun Tjun dan 2.5 juta dari Johan untuk masing-masing kami,” lanjut Kartono yang sekarang telah berusia 65 tahun.

Namun Kartono memutuskan menolak tawaran tersebut. “Saat itu gelar juara All England mungkin sama berharganya dengan emas Olimpiade sekarang. Bisa jadi pintu pembuka sponsor atau jaminan posisi kita di Pelatnas. Kalau kami kalah, belum tentu tahun depan memiliki kesempatan lagi,” kata Kartono. Apalagi pasangan ini menyebut lebih banyak menang atas Tjun Tjun/Johan di Pelatnas.

Karena itulah mereka mengatakan kepada manajer tim bahwa mereka akan bermain apa adanya. “Biarlah yang lebih baik menjadi juara,” kata Kartono. “Kami lebih yakin menang lawan mereka ketimbang menghadapi ganda putera lainnya, Christian/Ade Chandra.”

Pasangan Kartono, Rudy Heryanto tidak mau menyinggung soal adanya tawaran imbalan materi untuk mengatur hasil pertandingan di final tersebut. “Yang pasti kami memang sangat ingin juara di sana. Apalagi saat itu kami sudah cukup berumur. Kartono saja saat itu anaknya sudah tiga,” katanya.

Heryanto hanya menyebut saat itu Tjun Tjun/Johan memang sudah cukup sibuk sebagai pengusaha dan kekurangan waktu untuk berlatih bersama. “Jadi kami lebih punya banyak waktu untuk mempelajari permainan mereka. Sementara mungkin mereka tidak.”

Kartono sendiri mengaku tidak ingin memperpanjang kekisruhan mengenai misteri final All England 1981 ini. “Hanya saja rasanya kok tidak pas saja kalau orang mempercayai hal yang sebenarnya tidak terjadi. Saya juga berharap ini menjadi satu-satunya kasus seperti ini dalam sejarah bulu tangkis Indonesia.” (Tjahjo)