KANALNEWS.CO., Kudus – Seleksi Audisi Umum Beasiswa Bukutangkis hari kedua (Kamis, 21/11/2019) akhirnya meloloskan 71 peserta yang akan memasuki tahap tes fisik, Jumat (22/11/2019).

Dalam tahap kedua yang masih mempertemukan para peserta dalam pertandingan ini terjaring 71 peserta. Mereka akan mengikuti tes fisik pada hari terakhir, Jumat (22/11/2019). Mereka yang lolos tes fisik ini kemudian akan menasuki masa karantina selama satu pekan sebelum dipilih menjadi penerima beasiswa bulu tangkis dan menjadi anggota PB Djarum.

Menurut Fung Permadi dari PB Djarum, para peserta tahun ini jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. “Mereka rata-rata sudah menguasai teknik dasar bulu tangkis. Yang menjadi fokus pemandu bakat adalah mencari kelebihan dari masing-masing pemain. Dan dua hari ini tidak mudah,” kata Fung Permadi.

Fung menyebut faktor kalah menang tidak menjadi faktor utama dalam hal pemilihan calon penerima beasiswa bulu tangkis ini. “Kami juga melihat faktor daya juang, hasrat untuk menang dan tidak mau kalah pada mereka,” lanjut Fung.

Dengan faktor-faktor itulah ada beberapa peserta yang merasa kecewa karena meski pun mencatat kemenangan atas lawan-lawan, mereka justru tereliminasi.

Namun dua hari pertama Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis memperlihatkan banyak contoh keuletan anak-anak U-11 dan U-13 yang menjadi peserta. Mereka berusaha mewujudkan impian mereka menjadi pebulu tangkis dunia melalui PB Djarum. Meski untuk itu butuh pengorbanan yang besar.

Seperti yang diperlihatkan Chelsea Marvelyn Istanto. Gadis berusia 12 tahun ini harus meninggalkan keluarganya yang bermukim di Merauke, Papua demi megejar impian menjadi penerima beasiswa bulu tangkis PB djarum. Selama beberapa bulan ia seorang diri mengikuti audisi umum di Purwokerto, Surabaya dan Solo Raya. Setelah lolos ke final di Kudus, ia memutuskan berlatih di klub bulu tangkis lokal dan tinggal di rumah pelatihnya.

Sayangnya saat impian tersebut sudah di depan mata, Chelsea justru mengalami musibah. Pergelangan kaki kanannya cedera terkiilir karena salah tumpuan saat melukukan smash. Akibatnya penampialnnya jadi sangat menurun. Ia harus menahan sakit setiap kali melangkah di lapangan. “Sakit sekali kalau mengambil bola di depan net,” kata Chelsea.

Dengan segahla beban kesendirian, jauh dari orang tua dan maslah yang dihaladapinya di usianya yang masih muda, Chelsea harus tersingkir dari persaingan. Untuk mereka yang gagal, Fung Permadi mengatakan bahwa keputusan yang diambil pemandu bakat adalah yang terbaik dari pilihan yang pahit. (tjahjo)