KANALNEWS.Co., Jakarta – Karena telah berada di persaingan tingkat dunia, cabang bulu tangkis memeiliki kesempatan lebih luas untuk melahirkan pahlawan di bidang olahraga.

Hal ini terangkum dalam bincang media PB Djarum dan PB Jaya Raya, Kamis (12/11/2020). Acara bertajuk “Perjuangan Klub dalam Melahirkan Pahlawan Bulu tangkis Indonesia” ini berlangsung dalam memperingati Hari Pahlawan 10 November. hadir sebagai narasumber Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin, Ketua Harian PB Jaya Raya Imelda Wigoena, serta dua pebulutangkis ganda putra nasional, Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan.

Keempat nara sumber ini sepakat bahwa mereka yang layak mendapat julukan pahlawan olahraga dari boidang bulu tangkis adalah mereka yang berjasa membawa nama harum negara di kancah internasional. “Bisa itu di ajang turnamen tahunan BWF, Piala Thomas atau Uber atau ajang multi event seperti SEA Games dan Olimpiade,@ kata Imelda Wigoena dari PB jaya Raya.

Imelda yang pernah membawa nama baik Indonesia sebagai juara PIala Uber 1975 mau pun All England 1979 bersama Christian Hadinata dan Verawaty Wiharyo itu menyebut predikat itu layak disandang pemain yang berprestasi karena pencapaian itu merupakan akumulasi dari kerja keras yang bersangkutan. “Ketika seorang pemain itu mencapai prestasi tinggi yang membawa nama baik negara, maka ia telah membuat sennag banyak orang di negaranya,” kata Imelda.

Yoppy Rosimin dari PB Djarum menyebut pahlawan bulu tangkis Indonesia semua lahir dari kerja keras banyak pihak. Mereka bisa menapak dari tingkat paling bawah hingga ke jenjang internasional bila ada campur tangan klub dan juga federasi olahraga. Ia menunjuk bagaimana PB Djarum dan Jaya Raya serngkali harus memungut bakat dari pemain yang tersembunyi di pelosok daerah. “Di PB Djarum kami kami menemukan bakat melalui dua ststem perekrutan, audisi umum dan audisi khusus. Yang petama kami datang ke kota-kota di INdonesia, sementara yang kedua kami telah membawa pemian yang kami anggap berbakat untuk bergabung ke KUdus,” kata Yoppy.

Baik Imelda mau pun Yoppy sama-sama mengakui bahwa sebenarnya faktor mental lebih menjadi faktor terpenting untuk potensi pemain besar. “Saya pernah dititipi orang tua seorang pemain yang secara fisik dan teknik ideal meski masih usia muda. Sampai saya bilang ke jajaran pelatih bahwa kalau pemain ini tdiak jadi berarti kesalahan kalian,” kata Imelda.

Sebagai contoh pemain nasional yang bermental baja, baik Imelda mau pun Yoppy Rosimin sepakat menunjuk pada ganda veteran Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan. “Hendra dan Ahsan ini adalah contoh jelas tentang pemain dengan mental yang baik. Mereka pernah jatuh, pernah berpisah, namun kemudian mampu bangkit, bersatu lagi dan berprestasi justru di saat usia mereka tak lagi muda,” kata Yoppy.

Faktor mental inilah yang memang membuat Hendra dan Ahsan berkali-kali menjadi pahlawan bagi Indonesia. Terutama dengan menyelamatkan wajah tim Indonesia ketika pemain yang lain gagal berprestasi. Seperti yang mereka lakukan pada kejuaraan dunia dan All England 2019. Hendra menyebut faktor mental inilah yang memang menjadi faktor penyelamat saat mereka di ambang kekalahan. Ia menunjuk pengalaman menjuarai All England 2019 lalu. “Saat itu saya mengalami cedera dan hampir mustahil untuk melanjutkan pertandingan. Namun saya lihat partner saya (Ahsan) tidak mau menyerah dan saya lalu berpikir sudah sampai di sini, lanjutkan saja. Akhirnya malah berhasil,” kata Hendra.

Sementara Ahsan melihat final Asian Games 2014 merupakan bukti bahwa faktor mental bisa menjadi penentu keberhasilan. “Saat itu pasangan Korea, Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong sedang kuat-kuatnya. Kami lebih sering kalah. Tetapi di final saya dan Koh Hendra yakin kali ini kami akan mampu meraih kemenangan,” kata Ahsan.

Bagi Ahsan julukan pahlawan bukan sesuatu yang menjadi tujuan dalam meraih prestasi. Begitupun imbalan yang menyertai gelar tersebut. “Bagi saya dan mungkin juga Koh Hendra, menerima medali atau piala saat menjadi juara suatu turnamen itu seperti imbalan dari semua jerih payah yang kita jalani,” kata Ahsan. “Kalau ada imbalan materi dari pencapaian prestasi itu tentunya adalah pelengkap dari kebanggaan dan kebahagiaan kami.”

Bagi Yoppy mau pun Imelda menyebut faktor klub tentunya paling dominan dalam melahirkan pahlawan bulu tangkis. Namun sistem yang ada sekarang justru mengesampingkan jasa klub dalam sistem pembinaan bulu tangkis nasional. “Yang melahirkan dan membina pemain itu kan klub bukannya Pengprov? Pengprov saat ini bahkan banyak yang tidak aktif samasekali dalam pembinaan. Namun setiapkali munas yang menentukan rencana pembinaan bulu tangkis nasional, klub samasekali tak punya hak suara.” (Tjahjo)