KANALNEWS.co, Jakarta – Sarman El Hakim, salah satu bakal calon (balon) ketua umum PSSI meyakini organisasi sepak bola nasional masih akan sulit berkembang jika pemilihan pengurusnya masih tersandera oleh paradigma lama. Untuk itu, dalam para pemilik suara diimbau untuk lebih mengedepankan hati nuraninya dalam memilih pengurus baru PSSI melalui kongres yang direncanakan digelar 2 November 2019 mendatang di Jakarta.

“Sekarang ini masyarakat masih sangat yakin jika pemilihan pengurus PSSI lebih berdasarkan uang ketimbang pertimbangan lain. Keliru besar itu. Paradigma itu sudah harus ditinggalkan. Kalau tidak, organisasi sepak bola Indonesia tidak akan berubah. Masih akan seperti katak dalam tempurung,” ungkap Sarman di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Kongres Pemilihan Exco PSSI 2019-2024 akan menetapkan sebanyak 15 Exco yang terdiri atas seorang ketua umum, dua wakil ketua umum, dan 12 anggota Exco. Ke-15 Exco PSSI untuk masa bakti lima tahun ke depan tersebut akan diperebutkan oleh sebanyak 11 balon ketum, 15 balon waketum dan 71 balon anggota exco.

Sarman El Hakim bahkan mengibaratkan pemilihan Exco PSSI seperti kontestasi (pemilihan) anggota legislatif, di mana ada kecenderungan mereka yang terpilih menjadi anggota dewan baik di pusat maupun daerah mencari ganti dana yang dikeluarkan. Sarman tidak memperdebatkan sistemnya, ia lebih mempertanyakan motivasi dari masing-masing individu.

“Begitu juga dengan pemilihan Exco PSSI. Voters atau para pemilik suara mestinya memilih Exco PSSI yang bisa menjawab tantangan ke depan. Bisa membawa sepak bola Indonesia berprestasi lebih baik lagi. Kita sama-sama tahulah, sepak bola Indonesia hari ini sudah sangat terpuruk,” tegas Sarman El Hakim, yang sudah 11 tahun menjadi pegiat sepak bola Indonesia dan dunia.

“Mestinya disadari oleh kita semua, balon Exco dan juga para pemilik suara. Pemilihan Exco PSSI ini bukan sesuatu yang bersifat komersial. Kalau pemilihan pimpinan PT Liga bolehlah komersial, tetapi bukan PSSI-nya,” Sarman menegaskan.

“Saya tidak ujug-ujug mau menjadi ketum PSSI. Saya 11 tahun belajar, sudah 30-an asosiasi atau federasi sepak bola Eropa dan dunia yang saya kunjungi, tahun 2018 dan 2019 saja sudah tiga kali ke kantor FIFA, mengibarkan bendera Merah Putih. Semua itu demi kecintaan saya terhadap sepak bola Indonesia,” papar Sarman.

“Semua aspek ada tahapan atau proses pembelajarannya. Sepp Blatter masuk FIFA tahun 1975, tetapi baru 1998 dia terpilih menjadi Presiden FIFA. Gianni Infantino memang lama di UEFA, dan harus menunggu tujuh tahun untuk terpilih menjadi Presiden FIFA,” ujar Sarman.

Di Indonesia, ulang Sarman, untuk menjadi ketum, waketum dan anggota Exco PSSI harus bermodalkan uang. Bukan karena cita-cita atau keinginan luhur. Karena ukurannya uang, apa yang dicapai jauh dari target.

“Percuma saja kongres karena selalu dapat ketum yang biasa-biasa saja,” jelas Sarman.

“Saya yakin saya tidak terpilih, setapi setidaknya saya sudah mencoba memberikan solusi terkait apa yang seharusnya kita sama-sama lakukan,” ujar Sarman.

Dia sudah tiga kali maju ke pemilihan ketua umum PSSI, namun memang selalu gagal. Mendaftar sebagai balon ketum untuk keempat kalinya kali ini, Sarman dinyatakan tidak lolos verifikasi, bersama dua balon ketum dan satu waketum. Yakni, Yesayas Octavianus, Arif Putra Wicaksono dan Doni Setiabudi.

“Ya, setelah proses verifikasi itu ada yang dinyatakan tidak lolos tanpa banding dan ada yang bisa banding. Apa paramerernya? Itu yang bikin bingung!”

Sarman dan tiga balon ketum dan waketum yang dinyatakan tidak lolos namun berhak banding, kemudian mengajukan banding. Hasil banding akan diketahui 18 Oktober, sehari sebelum pengumuman Daftar Calon Tetap (DCT) calon Exco PSSI 2019-2024 untuk kongres pemilihan 2 November mendatang.

Terakhir, Sarman El Hakim mengemukakan niatnya untuk menemui Presiden Joko Widodo. “Insya Allah saya segera menghadap Presiden Jokowi, semoga bisa diterima sebelum pelantikan presiden dan wapres,” ungkap Sarman.

“Surat ke Pak Pratikno di Sekneg saya sampaikan besok,” jelas Sarman El Hakim. (WAN)